Just a poem. . .

Just a poem. . .

Satu persatu. . .
Kisah t’ungkap,
waktu bercerita,
dan semakin kusadari,
hanya waktuku yg berhenti,
aku terpaku di sini,
tak kenal jalan itu,
dan mungkin baunya pun ku tak kan tahu,

sudah lama kuputuskan ntuk menyerah,
sudah lama kuakui ku kalah,
namun tetap saja kaki ini berusaha melangkah,
tetap saja harapan itu merekah,

Ya Rabbi,
jika takdir tak kan pernah membawaku menyusuri jalan itu,
tolong bantu hambaMu ini ntuk menyerah,

bantu ku ntuk berhenti berharap. . .

Dan bantu ku ntuk temukan bahagiaku sendiri,

meski waktu terhenti disisiku. . .

Advertisements
Nostalgila part I

Nostalgila part I

haha…lagi-lagi late post…

tak apa-apa lah…ya?

ini tulisan ku pada tanggal 21 september kemarin yang lupa ku post..;p

gapapa de,,,toh pembaca blog ini baru abrari doank (have no idea how he found this blog)!
——

Hari ini H+1 lebaran dan masih kuhabiskan di rumah tanteku yang di Tonjong.

Hari pertama lebaran juga kuhabiskan disini, mengikuti rute beliau berkunjung ke rumah sanak saudara suaminya yang notabenenya tak kukenal satupun membuatku benar-benar berada di sebuah planet asing yang bahagia.

Tolong digarisbawahi, yang bahagia itu planetnya bukan aku. Lantas apakah aku sebegitu tidak bahagianya bertemu wajah-wajah baru dan menikmati makanan khas lebaran yang enak2??

Hmm, kalau ditanya begitu aku juga bingung menjawabnya. Entahlah, bagiku, ‘bahagia’ adalah kata terabsurd di telingaku. Rasanya jika ditanya padaku, ‘apakah orang itu terlihat bahagia?’ , mungkin aku bisa menjawab ya atau tidak. tetapi, jika pertanyaan itu dilemparkan padaku, aku sungguh tak tahu harus menjawab apa. Karena ‘kebahagiaanku’ adalah sesuatu yang terus kucari maknanya sepanjang hidupku ini.

Kalau kau bertanya padaku apakah menyedihkan menghabiskan lebaran di rantau orang jauh dari keluarga? Mungkin aku akan menjawab ya. Alasanku langsung menjawab ya adalah, ketika aku menghabiskan lebaranku di tempat dimana aku benar-benar asing sementara orang-orang di dalamnya benar-benar saling akrab, aku benar-benar merasa kesepian. Aku merasa sendirian berada di tengah-tengah wajah-wajah asing yang bersenda gurau bertukar canda sementara aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Mungkin ini hanya kesensitifanku yang tidak membawa apapun melainkan hanya kesedihan tak perlu yang seharusnya kuenyahkan di tengah perayaan umat muslim sedunia ini. Aku tahu, seharusnya aku lebih baik lagi dalam menyesuaikan diri dan mulai belajar untuk mengendalikan perasaanku [bukan malah jadi yang dikendalikan].

Entahlah, mungkin aku hanya butuh waktu.

Forget about yesterday and face today, right??

<change topic>

Aku tiba-tiba ingin bersejarah ria ni, tentang kehidupanku dan pencarian sosok yang kupanggil ‘sahabat’.

Sebelumnya aku ingin bertanya, menurutmu, seorang sahabat itu harusnya bersikap bagaimana?
Ketika kau merasa seseorang itu adalah sahabatmu, kau ingin mereka bersikap seperti apa?

Kalau aku, ketika aku merasa seseorang itu adalah sahabatku, aku ingin dia bisa menceritakan apapun padaku, berbagi kisah hidupnya, menceritakan sisi terbaik dan terburuknya , memperlihatkan sosok terkuatnya dan sosok terlemahnya, mengetahui tentang dia lebih dari siapapun , menerimaku apa adanya dan mungkin yang paling penting buatku, dia selalu ada untukku dan tahu bahwa aku juga selalu ada untuknya.

Mungkin kau akan berkata, aku terlalu melebih-lebihkan segalanya, tapi buatku, hal-hal tersebut penting bagiku.

Aku juga selalu ingin sahabatku mengabariku kehidupannya seperti aku selalu mengabarinya. Aku ingin selalu jadi yang pertama tahu perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Kabar baiknya, kabar buruknya, aku ingin selalu tahu.

Ketika aku merasa seseorang itu sahabatku, aku ingin menjadi seorang konsultan terbaik untuknya, aku ingin menjadi paparazzi yang pertama tahu segala tentangnya, aku ingin menjadi pelawak terlucu yang bisa menghiburnya, aku ingin menjadi dinding terkuat tempatnya bersandar, aku ingin…
menjadi seseorang yang selalu ia butuhkan…potongan puzzle kehidupannya yang tak tergantikan…
no matter what…

Hey, apa aku terdengar seperti seorang psikopat gila persahabatan yang haus perhatian?
Apa aku terlalu muluk-muluk?

Maybe yes…

Jangan tanya seberapa sering aku kecewa karena kriteria-kriteria merepotkan yang kubuat sendiri sejak kecil itu.

Mmm, let’s just start the story…

Ketika aku masih di bangku SD, aku memiliki dua orang sahabat yang kuanggap seperti saudara sendiri. Kami belajar bersama, bermain bersama ala bocah-bocah SD jaman baheula. Berdasarkan diary ku jaman itu, tak terhitung rasanya berapa kali aku kecewa dengan sikap mereka yang selalu membuatku merasa hanya aku yang menganggap mereka sahabatku.
Dan persahabatan itu pun akhirnya mendingin ketika kami memasuki gerbang SMP yang berbeda. Terlupa dan menjadi canggung.

Memasuki masa SMP, aku menemui masalah dalam menyesuaikan diri, sebenarnya dari diri sendiri aku sih tidak merasa ada yang salah pada saat itu, tapi secara tak sengaja aku mendengar percakapan teman-teman sekelasku yan menyatakan betapa menyebalkannya tingkahku. Aku tidak ingat bagian mananya dari diriku yang membuatku mereka membenciku pada saat itu, tapi yang jelas, itu benar-benar pukulan berat buatku. Aku tidak menyangka bahwa aku telah bersikap menyebalkan. [aku bukan orang peka memang]

Secara tidak sadar, sejak saat itu [Itu kejadian pada saat aku masih duduk di bangku kelas I SMP], aku berubah [ini pengakuan dari temanku], meski aku tak tahu berubah menjadi sosok seperti apa, yang jelas menurut pengakuan teman sekelasku di kelas dua [yang dulunya juga sekelas waktu kelas satu denganku], aku menjadi orang yang lebih menyenangkan.

Detailnya seperti apa, tolong jangan tanya, karena ini perubahan bawah sadarku, aku juga kurang mengerti. Pada saat itu, aku bergabung dengan, ya katakanlah sebuah geng yang terdiri dari beberapa orang cewek teman sekelas. Kami sering bersama di kelas, saat istirahat dan saat pulang sekolah. Namun, lama kelamaan, aku mulai merasa tidak nyaman dengan style pertemanan di dalamnya dimana lagi-lagi aku merasa tidak dibutuhkan dan berpikiran ‘aku tidak ada pun mereka tidak akan merasa kehilangan’.

Aku pun mulai ragu dengan persahabatan yang sedang kulakoni, apa benar mereka sahabatku? Aku terus bertanya-tanya di dalam benakku sampai aku memutuskan untuk mentes sepenting apa keberadaanku bagi mereka, dan taraaa, hasilnya, aku memang bukan siapa-siapa. Merasa membuang waktu dengan menghabiskan masa kelas dua ku dengan mereka yang bahkan tidak peduli aku ada atau tidak. Aku mundur perlahan-lahan. Memulai pencarian baru.

Ketika itu, ada perekruitan anggota ekskul mading. Aku pun bergabung. Di dalam organisasi ini, aku pun lagi-lagi terlibat sedikit slek dengan para anggotanya. Dasar aku memang sumber masalah. hahaha

Aku sempat ngambek karena tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tema yang akan diangkat dalam suatu edisi. Tau-tau, sudah diputuskan dan malah sudah ada bahannya. Aku kesal dan sempat mogok kerja. [aku benar-benar menyusahkan, maaf ya teman-teman untuk saat itu]. Tapi, pada akhirnya, aku lupa detailnya, aku pun kembali menjalankan tanggung jawabku sebagai tim kreatif dan mulai dekat dengan para anggota yang pada awalnya membuatku bermuram durja tersebut.

Memasuki akhir kelas dua SMP, aku tidak banyak membuat masalah dan mulai membuka sedikit pikiranku. Meski begitu, aku menanamkan sedikit doktrin di kepalaku, yaitu bahwa aku tidak boleh menggantungkan harapan terlalu tinggi pada orang lain lagi.

Kelas tiga, nyaris sepertiga anggota kelasku diganti dengan wajah-wajah baru. Aku menemukan pribadi-pribadi yang tak kukenal sebelumnya. Dan entah kenapa, kelas baruku ini sudah terbagi saja menjadi 4 kubu. Ada kubu cewek-cewek manis , kubu cewek-cewek gaul, kubu cowok, dan sisanya kubu perusuh kelas. Entah kenapa lagi, aku terlempar ke kubu yang terakhir ini.

Perbandingan cowok-cewek yang 3:1 memang membuat kelas tigaku ini menjadi kelas yang rame dengan ‘ibu-ibu’ meski sepertinya kubuku lah yang membuat kegaduhan itu, membuat kubu cewek-cewek manis geram dengan kami…He…he…he…

Mungkin masa-masa ini adalah masa yang paling berkesan dalam kehidupan SMP ku. Berbekal doktrin yang kutanamkan di akhir kelas dua, aku mengurangi frekuensiku menyakiti diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatifku dan berhasil menutup masa SMP dengan senyuman dan tanpa penyesalan.

Haah…sepertinya aku kali ini bicara terlalu banyak…kita cukupkan dulu di sini.

Nanti deh, kulanjutkan lagi dengan nostalgila masa SMA ku, semoga tidak bosan ya…

Tangisan Tanah Kelahiran

Tangisan Tanah Kelahiran

30 september.

Sebuah tanggal yang mengingatkan kita akan sebuah tragedi berdarah yang terjadi bertahun-tahun silam.

Kini, tanggal itu kembali menjadi momentum sebuah tragedi, yang juga menumpahkan banyak darah dan air mata.

Bukan sebuah pertempuran ataupun perebutan kekuasaan, kali ini bukan itu. Kali ini, hentakan dan goncangan dari bumi itu sendiri,

Yahh, di berbagai media cetak dan elektronik kita diberitahu tentang Ranah Minang yang hancur lebur diguncang gempa berkekuatan 7,6 SR yang terjadi Rabu sore itu.

Tangisku pecah menatap tampilan kotaku yang nyaris rata dengan tanah. Menangisku menatap isak tangis histeris para ibu yang kehilangan anak-anaknya, menatap mereka yang kehilangan para kekasih hatinya, menatap wajah kosong para bocah yang bingung mencari orang tuanya yang meraung, mengais reruntuhan mencari yang terkasih.

Teriris hatiku, mengingat dosa,

mengingat betapa mudahnya jika Dia ingin memutar balikkan bumi sekalipun,

mengingat, keluarga, para sahabat dan sanak saudara yang kabar beritanya belum kuterima.

Tanah kelahiranku meratap

dan Dia pun menatap di sana.

Mungkin Ia ingin menguji,

mungkin Ia murka,

mungkin ini hanya bagian dari cobaannya…

Aku tak tahu,

aku tak paham,

yang kutahu,

hatiku sakit,

hatiku pedih,

mendengar, menatap, membayangkan penderitaan yang harus dijalani penduduk kota yang telah membesarkanku selam 17 tahun…

Tak pernah kusangka,

hari ituakan tiba, hari dimana gempa akhirnya mengalahkan peradaban di kotaku. Meski sudah terbiasa dilanda gempa, aku masih tak percaya gempa berkekuatan sedemikian besarnya akan menimpa kota kelahiranku itu.

Beruntungku disini, tak sedang berada di sana. Atau mungkin juga tidak, karena aku tidak bisa berada di sana menemani mereka yang selama ini menemani hidupku menjalani masa-masa pemulihan setelah bencana ini.

Aku ingin percaya bahwa ini adalah sebuah cobaan dari Nya, untuk mencari siapa-siapa yang masih berjalan di jalanNya…

Namun, belakangan kuterima informasi tentang waktu-waktu terjadinya gempa yang bertepatan dengan beberapa ayat-ayat Allah yang mengatakan tentang kemurkaannya akan sebuah kaum yang tidak lagi mendengarkanNya lagi.

Apakah kotaku telah menjadi kota yang benar-benar penuh dengan maksiat dan kefasikan?

Apakah kotaku benar-benar telah membuat Yang Maha Kuasa murka?

Apakah ini benar-benar kemurkaan Sang KHalik?

Aku tak ingin membayangkan kemarahanNya, aku sungguh tak ingin…

Kalau iya…

Sungguh aku tak ingin hal ini terjadi…lagi…di mana pun…

Sedikit pintaku Ya Yang Maha Penyayang,,,,

Ya Allah,

Ya Rabbi,

Jika ini cobaanMu, kumohon berilah kami ketabahan dan kesabaran dalam menghadapinya,

namun jika ini murkaMu Ya Yang Maha Pengasih, kami mohon ampunanMU dan belas kasihMu untuk diri yang penuh dosa dan khilaf,

kami mohon kesempatan dari Engkau Ya Rabb, untuk bertobat dan menghadapMU dalam keadaan yang lebih baik lagi…

Amin.

Berikut sedikit foto keadaan kota padang pasca gempa 30september yang kuambil dari blog seorang senior masa SMA ku (http://bayusaja.wordpress.com)