Tangisan Tanah Kelahiran

Tangisan Tanah Kelahiran

30 september.

Sebuah tanggal yang mengingatkan kita akan sebuah tragedi berdarah yang terjadi bertahun-tahun silam.

Kini, tanggal itu kembali menjadi momentum sebuah tragedi, yang juga menumpahkan banyak darah dan air mata.

Bukan sebuah pertempuran ataupun perebutan kekuasaan, kali ini bukan itu. Kali ini, hentakan dan goncangan dari bumi itu sendiri,

Yahh, di berbagai media cetak dan elektronik kita diberitahu tentang Ranah Minang yang hancur lebur diguncang gempa berkekuatan 7,6 SR yang terjadi Rabu sore itu.

Tangisku pecah menatap tampilan kotaku yang nyaris rata dengan tanah. Menangisku menatap isak tangis histeris para ibu yang kehilangan anak-anaknya, menatap mereka yang kehilangan para kekasih hatinya, menatap wajah kosong para bocah yang bingung mencari orang tuanya yang meraung, mengais reruntuhan mencari yang terkasih.

Teriris hatiku, mengingat dosa,

mengingat betapa mudahnya jika Dia ingin memutar balikkan bumi sekalipun,

mengingat, keluarga, para sahabat dan sanak saudara yang kabar beritanya belum kuterima.

Tanah kelahiranku meratap

dan Dia pun menatap di sana.

Mungkin Ia ingin menguji,

mungkin Ia murka,

mungkin ini hanya bagian dari cobaannya…

Aku tak tahu,

aku tak paham,

yang kutahu,

hatiku sakit,

hatiku pedih,

mendengar, menatap, membayangkan penderitaan yang harus dijalani penduduk kota yang telah membesarkanku selam 17 tahun…

Tak pernah kusangka,

hari ituakan tiba, hari dimana gempa akhirnya mengalahkan peradaban di kotaku. Meski sudah terbiasa dilanda gempa, aku masih tak percaya gempa berkekuatan sedemikian besarnya akan menimpa kota kelahiranku itu.

Beruntungku disini, tak sedang berada di sana. Atau mungkin juga tidak, karena aku tidak bisa berada di sana menemani mereka yang selama ini menemani hidupku menjalani masa-masa pemulihan setelah bencana ini.

Aku ingin percaya bahwa ini adalah sebuah cobaan dari Nya, untuk mencari siapa-siapa yang masih berjalan di jalanNya…

Namun, belakangan kuterima informasi tentang waktu-waktu terjadinya gempa yang bertepatan dengan beberapa ayat-ayat Allah yang mengatakan tentang kemurkaannya akan sebuah kaum yang tidak lagi mendengarkanNya lagi.

Apakah kotaku telah menjadi kota yang benar-benar penuh dengan maksiat dan kefasikan?

Apakah kotaku benar-benar telah membuat Yang Maha Kuasa murka?

Apakah ini benar-benar kemurkaan Sang KHalik?

Aku tak ingin membayangkan kemarahanNya, aku sungguh tak ingin…

Kalau iya…

Sungguh aku tak ingin hal ini terjadi…lagi…di mana pun…

Sedikit pintaku Ya Yang Maha Penyayang,,,,

Ya Allah,

Ya Rabbi,

Jika ini cobaanMu, kumohon berilah kami ketabahan dan kesabaran dalam menghadapinya,

namun jika ini murkaMu Ya Yang Maha Pengasih, kami mohon ampunanMU dan belas kasihMu untuk diri yang penuh dosa dan khilaf,

kami mohon kesempatan dari Engkau Ya Rabb, untuk bertobat dan menghadapMU dalam keadaan yang lebih baik lagi…

Amin.

Berikut sedikit foto keadaan kota padang pasca gempa 30september yang kuambil dari blog seorang senior masa SMA ku (http://bayusaja.wordpress.com)

2 thoughts on “Tangisan Tanah Kelahiran

    1. Ya…seakan-akan tak berkesudahan…

      belum kering lagi air mata karena gempa padang,
      gempa pun merayapi tanah Jambi…;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s