Sajak tanpa nama

Sajak tanpa nama

Sajak ini kutuliskan untuk jiwa2 sunyi. . .
Yang tertawa menahan tangis sepi

yang tersenyum sembunyikan luka

yang teriris hatinya. . .

melodi ini kulantunkan
untuk para musafir yg keletihan

ntuk hibur kalbu2 nan terliputi sendu. .

ntuk jiwa2 yg kering

kulantunkan irama riang penuh cita. .

Lagu suka yg kan hapuskan lara

kan kuhapuskan dukamu kawan
mari kita bergembira!
Lupakan sejenak penatnya hidup,
dan mari kita bernyanyi bersama!

Sajak ini kutuliskan untuk jiwa2 sunyi. . .
Yang tertawa menahan tangis sepi

yang tersenyum sembunyikan luka

yang menahan derai air mata

lupakan sejenak kejamnya dunia

lantunkan lagu suka yg kan hapuskan lara!

mari kita bergembira!

Hidup Perantau!

Hidup Perantau!

Uaaa…

Lama tak jumpa diaryku sayang…hehe

Hari ini Idul Adha lho!

Idul Adha keduaku di tanah Jawa. Tetap saja biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spesial, tak ada yang berkesan. Lagi-lagi hanya kuhabiskan di rumah tanteku.

Ei…kadang-kadang aku berpikir, memangnya lebaran jauh dari orang tua sebegitu menyedihkannya ya? Karena menurutku biasa-biasa aja. Tak ada kesedihan tertentu yang mengiris kalbuku tuh..

Apa ini ya yang disebut hati yang sudah membeku?

Haha, entahlah, yang jelas aku tak begitu mengerti kesedihan dan tangisan yang dilantunkan para perantau lain (baca: teman-temanku yang lain) beberapa hari ini ketika teman-teman yang berasal dari jabodetabek bersorak sorai tentang kepulangan mereka.

Aku tak mengerti karena aku tak merasakan kesedihan semendalam itu, jujur saja.

Bagiku, dibandingkan berada jauh dari orang-orang yang membesarkanku, lebih sedih dan menghancurkanku jika keberadaanku terhapuskan dan terlupakan. Hanya itu pintaku. Agar tak terlupakan. Makanya, seberapa jauh pun jarak membentang di antara aku dan orang-orang yang berharga bagiku, selama mereka mengingat dan merindukanku, itu sudah cukup.

Tak perlu ada tangisan, tak perlu ada keluhan.

Hidup perantau menurutku tak semenyedihkan itu teman!

Ingin kukatakan pada teman-temanku itu, daripada mengeluh, lebih baik ia mensyukuri nikmat Allah yang membuatnya bisa merasakan sisi lain kehidupan di belahan lain bumi ini.

Tak masalah jauh dari orang-orang yang kita sayang, selama kita saling mengingat. Itu sudah cukup. Itu sudah cukup.

Aku pribadi, sangat mensyukuri keberadaanku di sini. Aku mengenal banyak orang. Aku mencicipi berbagai rasa kehidupan. Aku menghirup berbagai udara yang melingkupi setiap langkah perjalananku di sini.

Tak ada yang kusesali.

Akulah yang memilih jalanku ini, dan aku menikmatinya.

Yahh,,, meskipun tak bisa dipungkiri, aku butuh waktu cukup lama untuk dapat menyesuaikan diri dengan irama baru sebagai mahasiswi perantau.

But,,I’m happy!

Jangan menangis teman, nikmati hidup kita sebagai para perantau!

Okay?

Hidup perantau!!

(“)9

Puisi Lama yang tiba2 diketemukan…

Puisi Lama yang tiba2 diketemukan…

Secara tak sengaja, aku menemukan sebuah puisi yang kubuat tahun lalu..

haha…sok melankolis gitu,,,

enjoy…^^

Aku berhenti pada suatu titik.
Titik dimana pantulan diriku tertangkap dengan sangat jelas dan bening.

Menatap kedua mata itu, menelusuri wajah itu.
Telah kudapatkan fakta yang kucari-cari.
Bahwa diriku adalah sebuah kebodohan yang berjalan.

Kenaifan yang tak lekang waktu dan kekonyolan yang terlanjur mendarah daging.

Aku menatap tajam kedua bola mata yang juga balas menatapku tajam itu. Dengan mudah kutangkap kedangkalan pikirannya dan  terbaca jiwanya yang tak pernah dewasa.

Dia terkukung disana, dalam dimensi waktu yang telah berlalu, terbelenggu dalam tubuh dewasa namun dengan jiwa yang tak matang.

Kutatap dan berusaha kuterjemahkan lebih diri yang terpantul di depanku. Kutermangu, tak ada lagi yang bisa kuutarakan, ia bukan pribadi rumit yang harus digambarkan dalam rangkaian kata cerdas dan berkelumit.

Ia hanyalah ia.

Yang bahkan tak mengerti apa yang orang-orang di luar sana ributkan.

Yang bahkan tidak mengerti ia hidup di dunia seperti apa. Ia sebuah kebodohan berjalan.

Yang tak bisa menangkap esensi dari berbagai peristiwa disekelilingnya.

Ia yang hanya bisa menertawakan kenaifan dan kedangkalannya. Ia yang terus berjalan dengan ketidaktahuannya, berusaha bertahan dengan kebodohan yang tak bisa disingkirkannya.

Pantulan itu adalah aku. Aku adalah sang Pantulan.

28 December 2008,
11:51 PM

Pagiku yang dingin

Pagiku yang dingin

bintang memeluk malam
atau malam membungkus sinarnya yang samar?

matahari menemani siang
ataukah siang yang mengenggam sang mentari?

jawaban dengan tanya
atau tanya dengan jawaban

pedih tertusuk
atau tusukan yang pedih

musik berlantun nada
atau nada di dalam musik?

apa yang mesti terjawab
dan apa yang mesti terdiam

tanyaku dalam diam
tanyaku dalam hening

hanya gumaman

gumaman sepi dari jiwa kosong

dari hati yang mulai lenyap

sudikah  terjawab?

1 november 2009
pagiku yang dingin

Another grumble…

Another grumble…

ayayyaya….
late post yang menjadi trend kini buatku…hehe…

sudah memasuki hari-hari terakhir UTS ni, dan aku mulai tenggelam dalam lautan kemalasan dan rasa letih yang menumpuk…
Hhaha… besok adalah hari terakhir UTS ku,,,dan aku belum memegang bahannya dengan serius, padahal dengan otakku yang setengah bekerja ini,
harusnya aku berlatih lebih keras.
Tapi apa mau dikata…kemalasan mengalahkanku…hihi…
Alhamdulilah, beberapa hari ini aku belum mengalami kesialan apa-apa kecuali ujian2 yang hancur punya.
Ya sudahlah, tak berhak kusesali, memang salahku tak mempersiapkan diri dengan baik…;9
nostalgila part II belum selesai kurangkum, jadi mungkin belum akan ku post dalam minggu-minggu ini.
Soal cerbung juga, ,,, ahhhmmm,,, aku ini bener-bener ya… ga ada yang beres..;p

Okeh..;
nanti deh, setelah punya bahan yang bisa kutulis, aku tidak akan lupa mempostnya!!!
FIGHT!!!
(^^)9
2 NOVEMBER 2009

Awas Abate!!!!

Awas Abate!!!!

Beranjak hari, berputar waktu, sungguh detik-detik kini berjalan begitu cepat.

Hari raya idul fitri bahkan sudah berbulan-bulan. Aku tak paham mengenai kerelatifan waktu, namun bagiku, kini semuanya terasa sangat cepat.
Postingku mengenai masa-masa sekolah ku dulu, kita pending dulu, aku ingin bercerita mengenai hal lain dulu.
Hah…waktu sungguh berlalu cepat, tahu tidak,sekarang malah aku sedang menjalani masa-masa UTS BERDARAH…
Dimulai hari kemarin yang diawali oleh Algoritma dan hari ini dengan Aljabar Liniar yang membuatku otakku sudah tak liniar lagi!
Beberapa hari ini kurasakan kesialan menghantuiku, kurasa Allah sedang murka atau sedang menegurku ya?
Entahlah…
Kemarin , aku menghilangkan selembar uang 50ribuan terakhirku!
dan hari ini ada kesialan lain yang menimpaku. AKU TERTIPU OLEH GEROMBOLAN ABATE!!
Aku nyaris tertipu Rp30.000! Meski akhirnya tertipu juga sebesar Rp 6000, tapi yang membuatku ingin menangis bukanlah jumlah uang yang ‘dirampok’ dariku, tapi kebodohanku hingga tertipu ini yang membuatku kesal hingga ingin menangis!
Alkisah, hari ini,mentalku hancur lebur karena ujian ALJABAR LINIAR, hingga harus aku istirahatkan jiwa ragaku, *jiah padahal cuma ngantuk gara-gara semalam  kurang tidur*,
nah, ketika sedang asyik larut dalam tidur siangku, terdengar panggilan dari arah luar pintuku, setengah nyawa aku bangkit dengan malasnya menghampiri sang sumber suara,”Ya?” kataku.
“maaf, mbak, kami dari dinas kesehatan, ini bubuk ABATE,wajib beli buat setahun, 10 biji mbak, satunya 3000,” ucap si mbak-mbak ABATE dengan manisnya.
“wajib ya?”
“Iya,mbak, mbak putri yang di kamar depan juga beli kok, nanti mbak pasang kertas di pintu ya, untuk cek pemeriksaan,”
“Harus beli?”
“Iya ,mbak”
“hoo..”
Masih dengan setengah nyawa yang tak balik-balik,  dengan bodohnya aku langsung mengambil dompet dan mengeluarkan selembar uang 50ribuan dari dalamnya dan DENGAN BODOHNYA ngasih ke mbak-mbak ga jelas itu.
“Kembaliannya 20ribu ya mbak, 10 buah jadi nya 30ribu” katanya lagi dengan wajah manis.
“Huuh,”
Dan si mbak menghilang dari hadapanku. Aku kembali berniat menyambung tidurku yang terputus, ketika aku sadar. “30 RIBU!!!!! UNTUK ABATE???!!!” jeritku.
Aku pun langsung berlari ke kamar putri dengan kalut.
“Put, bubuk ABATE beli juga tak?”
“Ga, put bilang lagi ga ada duit,” jawabnya dengan cuek.
“Hah!!!!!!!!!!!!!!!??????????? RI BELI! 30 RIBU!!!!!!!” pekikku lagi.
Tetanggaku yang lain yang mendengar teriakanku berhamburan menanyakan ada apa gerangan. Dan ketika kuceritakan membeli ABATE SIAL itu sebanyak 10 BIJI, meraka menatapku dengan pandangan kasihan-bodoh-sekali-cewek-ini!!
Hanya dua orang temanku, yang meneriakiku “Cepat Kejar!! Orang tadi belok ke kiri! Kejar!!”
Panik, aku menyambar BATE-ABATE SIAL itu di atas mejaku dan berlari ke luar tanpa mempedulikan penampilanku yang baru bangun tidur dan tanpa sendal, berusaha mengejar salah satu diantara gerombolan mbak-mbak ga jelas yang masuk ke kosanku itu.
“Mbak…mbak” panggilku dengan suara yang setengah menangis ketika menemukan salah satu dari mereka di tikungan menuju gang sebelah.
Mbak-mbak berbaju hijau yang bukan mbak-mbak yang tadi ‘merampokku’ menatapku dengan pandangan mau-apa-sia yang serem abis.
“Mbak-mbak, teman mbak tadi mana mbak? Saya mau mengembalikan bubuk ABATE ini, saya ga jadi beli semua, saya belum bayar uang listrik mbak…” ucapku kalut dan menghiba.
Dia diam sebentar sebelum menjawab,”Iya, dia di depan,”
“Mbak, mbak aja yang mengembalikan ya mbak, saya ga pake sendal ni mbak, ya mbak ya?”
“Jangan, saya ga pegang duitnya, nanti dia bingung lagi, udah ikut aja, dia ada di depan”
Aku menurut saja dan mengikuti si mbak berbaju hijau menuju gang berikutnya dan kemudian kami bertemu anggota mereka yang lain yang berbaju hitam.
“Si mbak A kemana?” tanya si Hijau.
“Tadi kalo ga salah, ke gang yang disitu,” jawab si Hitam sambil menunjuk belokan yang jelas-jelas bukan gang melainkan kuburan.
Aku menatap si Hijau ragu-ragu. Hatiku curiga, mungkin saja mereka berniat kabur. Karena aku tak kunjung bergerak, Si Hijau akhirnya berjalan memeriksa belokan itu.
Sesampainya di sana, Jelas saja, yang ada hanya barisan makam-makam dan semak-semak.
“Nggak ada mbak…” teriak si Hijau pada si Hitam.
Kami pun berbalik mengikuti si Hitam ke gang selanjutnya.
Si Hitam terlihat gusar dan aku terlihat kacau dengan tangis yang bisa pecah sewaktu-waktu.
“Mbak, mbak aja yang balikin ya…, saya belum bayaar uang listrik…;{” bujukku lagi.
Si Hitam kemudian menelpon temannya dan bicara sebentar dalam  bahasa sunda.
“Tunggu bentar, dia lagi buang air kecil sebentar di mushalla,”
Aku mengangguk menyedihkan. Kepalaku membayangkan uangku yang tak kembali.
Tak lama setelah ia menelpomn, si Hitam berkata “Ya udah, ini cuma karena saya kasihan sama kamu, kamu ambil aja 3, sisanya saya kembalikan uang kamu,”
Ia mengambil bubuk2 SIAL itu dari tanganku dan mengeluarkan uang dari dompetnya yang besar.
“Jangan 3 donk mbak, dua aja,” *sungguh tawaran yang bodoh*
“Uh, yang di atas aja tadi ambil 3 kok,” rutuknya sambil menyerahkan uangku dann 2 bungkus abate.
“Udah kan?”
“tapi…”
“udah ya,” ucapnya sambil berlalu dari hadapku.
Aku hanya tergugu dan tak bisa menjawab. Antara ikhlas dan tidak . Aku hanya bisa menggigit bagian bawah bibirku dan menatap si Hitam dan si Hijau menjauh pergi.
Linglung, aku menyusuri gang-gang tadi, bertelanjang kaki, lupa memakai jilbab dan menggenggam dua bungkus abate serta uang sejumlah 24rb rupiah.
Sesampainya di kosan, aku disambut oleh dengan pemandangan penghuni kos-kosanku yang berkumpul di tengah-tengah halaman. *sepertinya sedang membicarakan kebodohanku*
Berusaha kalem, aku berjalan lurus menuju kamarku.
“Gimana rhie, dapet?” tanya temanku yang tadi meneriakiku.
Aku mengangguk lemah,”cuma dibalikin 24rb”
Temanku itu tersenyum kasihan,”Udah, ga papa, ganti pelajaran, yang penting ga hilang semua,”
Hiks…aku benar-benar kesal.
Bukan karena uang yang melayang percuma, tapi karena kesal kenapa aku bisa bertindak sebodoh itu sementara tak satupun penghuni kosanku yang tertipu separah aku.
Bodohnya~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumpah…
Aku benar-benar mengasihani diriku yang bodoh ini.
Tak percaya segampang itu aku memberikan uang makanku pada orang ga jelas yang jual ABATE yang ga kalah ga jelasnya!!!
Arrrrgggghhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!
>,<
Sepanjang sore akhirnya kuhabiskan menuliskan cerita ini sambil merutuki kebodohanku.
Ampun dah…aku tu~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pelajaran Moral Hari Ini: “Bubuk ABATE bisa bikin kamu bangkrut”
27 oktober 2009