Nostalgila Last Part

Nostalgila Last Part

Yuhuuu…akhirnya part II muncul!!

Haha, setelah hampir setengah semester kutunda, akhirnya aku berniat juga melanjutkan posting yang nyaris terlupa ini. Hehe..maap ya tidak tepat janji..;p

Hmm, kita mulai dari mana ya?

Dari awal MOS (Masa Orientasi Siswa) ? Ah, sebenarnya, dipikir-pikir, masa SMA ku datar sedatar-datarnya lho! Tidak banyak yang bisa kuceritakan, selain sepertinya kegilaanku akan komik yang menjadi-jadi. Hehe

Saat kelas X, aku memiliki dua kelas yang berbeda yang pernah kutempati. Kok bisa? Ha, begini ceritanya, setelah MOS berakhir, di sekolahku diadakanlah yang nama tes ELA (Entry Level Achievement). Tes tersebut berguna sebagai dasar penempatan kelas kita nanti. Apakah di kelas biasa, kelas unggul, atau kelas internasional. Hasil dari tes tersebut dipampang di mading, dan kau tahu, nilainya itu diurutkan dari yang tertinggi sampai yang terendah!! Haah, beruntungnya,(though I dont know how), aku menempati posisi ketiga! Dari atas loh, bukan dari bawah. Hehe…

Nah, di hasil yang yang dipampang, ada garis merahnya, nama-nama yang berada di atas garis merah tersebut berhak mengikuti tes lanjutan untuk memasuki kelas internasional. Berhubung aku termasuk jajaran atas, yah, akupun dipaksa mendaftar oleh ayahku untuk kelas internasional. Katanya, iseng aja, jajal kemampuan.

Meski ogah-ogahan, akhirnya aku ikut juga. Seperti yang bisa kau tebak, aku lulus bersama 29 orang lainnya, kalau ga salah. Saat itu, aku benar-benar menyalahkan ayahku atas kelulusanku. Haha, aku benar-benar tidak tertarik masuk kelas yang kuyakin akan membuat orang pemalas seperti kerepotan dan kuyakin juga akan membebani kantong ortuku, meskipun ayah bersikeras bahwa dia bisa menanggungnya. ;p

Dengan sedikit paksaan negoisasi dengan wali kelas inter, aku diberi tenggat waktu selama dua minggu untuk mencoba dulu suasana kelas, bila masih tidak kerasan, aku diperbolekan pindah ke kelas biasa. Seperti yang bisa kau tebak juga, setelah dua minggu, aku memutuskan untuk keluar, dan dimulailah petualanganku di SMA yang sebenarnya.

Di kelas yang baru, dimana aku datang seperti siswi pindahan, aku tidak terlalu kesulitan menyesuaikan diri. Berhubung, kelas pindahanku ini berisi para siswa-siswi yang namanya berada di atas garis merah sepertiku, bisa kita katakan, mereka setipe denganku. Makanya, aku tidak terlalu kesulitan menyesuaikan diri.

Kelas X berjalan aman dan tentram. Tidak ada permusuhan yang kubuat. Tidak banyak kesulitan, yah, kecuali fakta bahwa pelajaran IPA SMA itu membuatku megap-megap.  Juga, saat di kelas X inilah, aku mulai menumbuhkan kecintaan pada komputer yang mana menyesatkanku membawaku ke jurusanku sekarang.

Yup, dan kelas XI pun datang, aku terlempar ke jurusan IPA yang mana juga merupakan pilihanku karena aku benci pelajaran sejarah dan sedihnya, ternyata anak IPA tetap menemukan sejarah sebagai mata pelajaran wajibnya sampai nanti kelas XII. (“)’

Memasuki awal kelas XI, ekskul mading yang kuikuti membutuhkan pemimpin baru secepatnya karena ketua sebelumnya melepaskan tanggung jawabnya begitu aja. Yah, kau tahu, dengan sifatku yang baik hati tidak bisa menolak dengan tegas dan tidak tegaan, aku ditunjuk sebagai ketua selanjutnya dengan voting yang semena-mena oleh para senior.

Tanpa pengalaman, jiwa pemimpin, dan tata organisasi yang benar, aku memberanikan diriku menghadapi kenyataan, bahwa aku adalah sang ketua. Berbekal jiwa yang dipaksa bernyali, aku pun memulai karirku sebagai diktator pemimpin mading sekolah. Berbagai kebingungan, hal-hal administratif baru harus kuhadapi disini. Tapi, sekarang, aku sangat bersyukur, saat itu aku tidak lari dari tanggung jawab seperti yang dilakukan oleh ketua sebelumnya. Banyak hal berharga yang kudapat sepanjang masa-masaku aktif di mading SMA ku ini, meski nggak semuanya menyenangkan, tapi tetap menjadi pengalaman tak terlupakan bagiku, bahkan sampai hari ini.

Di masa-masa kelas XI inilah, aku menemukan komunitas-komunitas baru yang menjadi akrab denganku dari hari ke hari. Ada komunitas rusuh (seperti biasa), komunitas pecinta komik dan komunitas olimpiade komputer, tentu saja komunitas anggota mading juga. Nggak ada yang nyambung ya? Hehe

Kelas XI bisa dikatakan satu-satunya masa dimana aku aktif membangun sekaligus menghancurkan. Hehe. Aku mencoba hal-hal baru, mencoba berteman dengan berbagai  kalangan dan melahap berbagai jenis komik, tapi sekaligus menghancurkan nilai-nilaiku. ;p

Saat itu, bukannya tidak ada masalah dalam dunia sosialku. Aku dikenal sebagai pemimpin yang keras dan hubunganku dengan wakil ketuaku sangat buruk. Guru pembimbing yang bertanggung jawab atas ekskul yang kupimpin ini pun tak mau tahu dengan perkembangan kami.  Teman-teman seperjuanganku tidak berusaha sekeras yang kulakukan, itu yang kupikirkan. Padahal tidak juga, hanya aku yang terlampau keras.

Tapi toh, masa ini berakhir juga dan zaman kegelapan UN pun menanti. Haha, di semester 5 dan 6, aku menyadari ketertinggalanku dari teman-teman yang lain dalam hal pelajaran IPA, sesak napas aku mengikuti pelajaran yang selama dua tahun sebelumnya tak pernah kusimak. Untunglah, aku punya teman-teman yang baik. Mereka adalah dari golongan pecinta komik yang juga golongan rajin nan pintar. Hehe

Mereka membantuku mempersiapkan diri menghadapi UN, dengan mengajariku setiap pulang sekolah di masjid dekat sekolah. Aku berhutang banyak pada mereka berdua. Yah, memang Cuma dua orang yang mengajariku. Tapi mereka sungguh sabar dan pintar mengajariku.

UN pun berlalu begitu saja. Berhubung aku sudah diterima sebagai mahasiswa undangan (aku lupa menyebutnya ya?), aku menikmati liburan yang gajebo sementara teman-temanku berjuang mati-matian menghadapi SNMPTN. Saat menunggu hari-hari keberangkatanku ke bogor ini, benar-benar hari-hari yang membosankan. Kerjaanku Cuma nonton film di komputer atau cengok di depan acara tipi yang ga mutu. Yah, meskipun di akhir-akhir, aku sangat sibuk. Sibuk mengetik surat permohonan dan mengajukan beasiswa kemana-mana. Yah, inisiatif ayahku sih. Yeah, meski sering membuatku sebal. Aku sangat salut pada perjuangan ayah yang memperjuangkanku agar tetap bisa berangkat kuliah ke tanah Jawa ini,  walau kami nggak punya cukup uang untuk mengurus tetek-bengek mahasiswa baru.

Aku bersyukur punya ayah segigih dan secerdas ayahku. Beliau mengajukan beasiswa dengan taktik dan perhitungan yang matang. Ayah memperhitungkan segalanya. Dalam waktu singkat, ayah berhasil mengumpulkan uang yang kuperlukan untuk membayar tahun pertama kuliahku. Bahkan uang yang terkumpul berlebih hingga bisa juga untuk membayar tiket pesawatku dan ayah ke Jakarta. Saat itu aku benar-benar sadar, selama ini aku sering merutuki hidupku. Mengeluhkan ini dan itu, padahal Allah sangat sayang padaku. Dia memudahkan segalanya. Sampai kini pun, kurasakan, betapa beruntungnya aku menjadi ‘Aku’. Meskipun aku belum bisa membalas dengan setimpal kebaikanNya dan kebaikan orang-orang yang percaya padaku. Tapi aku masih berusaha.

^^

Yah, nostagila kita diakhiri sampai sini saja, berhubung masa-masa sekolahku sudah kuceritakan semua. Garing ya masa SMA ku? Tapi, aku benar-benar merindukan masa-masa itu lho! Bagaimana dengan kamu? Apa juga rindu?

2 thoughts on “Nostalgila Last Part

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s