Dream, the true emotions

Dream, the true emotions

Mimpi. Si bunga tidur.
Semua kita pasti pernah bermimpi bukan?
Ada yang ingat dengan jelas mimpi-mimpinya , ada juga yang tidak ingat sama sekali. Aku termasuk kepada golongan yang mengingat jelas mimpi-mimpinya. Karena aku selalu ingat mimpi-mimpiku, aku jadi ingin selalu menceritakannya kepada orang-orang di sekitarku.
HHah, gara-gara kebiasaanku ini, seorang teman sampai meledekku, “mimpi terus ya?”

Entah kenapa, diantara orang-orang di dekatku saat ini, yang selalu mengingat mimpi saat tidurnya hanya diriku. Mereka semua melupakan mimpi-mimpinya saat tidur. Aku jadi orang aneh sendiri, hehe.

Didorong oleh rasa penasaranku kenapa aku beda sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk googling mencari hal-hal yang berkaitan dengan mimpi, dan taraa, aku pun menemukan beberapa fakta menarik tentang mimpi.

“Dari pemeriksaan tidur diketahui bahwa mimpi berasal dari bagian otak yang disebut pons yang berada di dasar otak. Dari sana gelombang otak menyebar ke beberapa bagian otak.

Yang menarik, dari pemeriksaan dijumpai bahwa bagian otak yang diaktifkan untuk mengerjakan suatu tugas selama terjaga diaktifkan kembali saat mimpi. Ini artinya, tidur mimpi berperan dalam konsolidasi memori.”

Yang diatas itu kutipan dari sebuah artikel di kompas

Dalam artikel yang lain, aku juga mendapati informasi bahwa fenomena mimpi itu juga dirasakan oleh orang buta lho. Walaupun mungkin bentuk mimpinya tidak tervisualisasi seperti mimpi orang biasa.

Mimpi juga merupakan manifestasi dari emosi yang kita rasakan. Tidak jarang kan, ketika kita sedang diliputi kecemasan tertentu, kita akan mengalami mimpi buruk.

Hal-hal yang kita alami selama bermimpi bukan merupakan hal yang nyata, tapi tetap merupakan suatu kumpulan ingatan kita yang diramu secara kreatif oleh otak kita. Meski begitu, boleh saja hal-hal yang kita lalui itu tidak nyata, tapi emosi yang kita rasakan selama bermimpi adalah yang benar-benar kita rasakan.

Dan ternyata juga, 5 menit setelah kita terbangun, kita akan lupa 50% dari mimpi kita, dan 10 menit kemudian 90%-nya akan terlupakan. Tapi kasus ini tidak mutlak pada semua orang, karena ada juga yang tidak ingat sama sekali dan yang ingat dengan jelas sepertiku.

Hal lain yang kutemukan ketika googling adalah bahwa ada yang namanya fase REM (Random Eye Movement) ketika kita tidur. Nah, menurut penelitian, kalo orang yang sedang berada dalam fase ini dibangunkan dari tidurnya, maka orang tersebut akan cenderung mengingat mimpi mereka. Bisa jadi, aku selalu mencapai fase ini ya setiap tidur? hehe

Yah, apapun itu, aku paling setuju dengan pendapat Freud yang mengatakan bahwa mimpi adalah sebuah ‘saluran’ pengaman bagi emosi manusia, dimana emosi atau perasaan-perasaan yang ditekan selama terjaga dapat dikeluarkan secara sehat lewat mimpi.

Alasan kenapa aku selalu ingat dengan mimpi-mimpiku memang tidak kutemukan dalam pencarian hari ini, namun justru aku menemukan pertanyaan baru yang harus kujawab. Apakah mimpi-mimpiku bahkan lebih jujur dalam mengungkapkan emosi-emosiku yang sebenarnya?

Bagaimana denganmu? Apa mimpimu semalam?

3 thoughts on “Dream, the true emotions

  1. aku juga sama kayak kamu. diantara aku dan orang2 sekitarku cuma aku yang dapat mengingat mimpiku dan itu terjadi hampir tiap hari. trus aku juga pernah mimpi yg bersambung gitu sama mimpi dalam mimpi (inception gitu). yang aku heran setiap kali aku mimpi di sekolah atau dirumah itu settingannya selalu sama tapi beda sama settingan sekolah/rumah ku yg nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s