Speak to me

Speak to me

Speak to me with tenderness
Speak to me with gracefulness
Speak to me with happiness and love
Speak to me in loneliness
Speak to me in bitterness
Speak to me in faithlessness with love

You want to hide when you’re alone
Where do you run to when you’re on your own?
You’re looking to find some peace of mind
But nothing’s in sight at the end of the line, oh no

Speak to me in emptiness
Speak to me in failed success
Speak to me in speechlessness with love
You want to hide when you’re alone

Where do you run to when everything’s gone?
You’re looking to find a good thing in life
But nothing’s in sight at the end of the line
So where do you hide when you’re alone?

Where do you run to when you’re on your own?
That dream in the dark just sank like a stone
That voice in your heart,It won’t come to the phone,It never comes

Speak to me with tenderness
Speak to me with gracefulness
Speak to me with happiness and love
Speak to me in loneliness
Speak to me in bitterness
Speak to me in faithlessness with love

Speak to me
Speak to me
With love

Copied from MetroLyrics.com [http://www.metrolyrics.com/speak-to-me-lyrics-roxette.html]

Lama tak menulis, hari ini kuputuskan menuliskan sesuatu setelah mendengarkan lirik lagu Roxette yang berjudul Speak to me. Liriknya mengingatkanku pada para sahabat-sahabat lamaku yang sudah tersebar dimana-mana dan tak tahu lagi kabarnya. Kami terlalu sibuk menjalani kehidupan kami masing-masing, hingga tak punya waktu hanya untuk bertukar sapa.

Sepertinya aku dan mereka tak menyadari betapa rapuhnya hubungan antar manusia jika tak dijaga komunikasinya. Atau kami yang terlalu naif beranggapan ikatan itu akan tetap ada tanpa usaha berarti untuk mempertahankannya.

Lirik itu seolah menyentilku, sebelum aku protes dengan keacuhan mereka akan kabarku, bukankah aku juga melakukan hal yang sama? Aku tak lagi bicara pada mereka tentang hidupku. Tak lagi berkeluh kesah tentang kesepianku. Tak lagi berbagi kegelisahan dan keresahanku. Juga tak lagi berbagi cerita bahagia ataupun pencapaianku disini. Sama sepertiku, mereka pun tak lagi bicara padaku tentang hidup, tangis, dan tawa mereka.

Waktu mengubah segalanya. Meski teknologi berusaha mendekatkan perbedaan waktu dan jarak di antara aku dan mereka, hati yang mulai menjauh ditelan waktu tak bisa dielakkan. Kami mulai berjalan menuju jalan kami masing-masing, tak lagi bergandengan tangan dan meniti jalur yang sama. Itu tidak sepenuhnya hal buruk, tapi entah kenapa terasa sedikit menyedihkan buatku.

Aku menyayangi sahabat-sahabat lamaku seperti saudaraku sendiri. Seperti lirik lagu Speak to me, aku ingin mereka bicara padaku dan berbagi baik kisah sedih maupun sukacita mereka. Dan mungkin di tengah cerita itu, mereka bertanya bagaimana aku menyeret langkahku di tanah Jawa ini. Yah, apa susahnya bertanya kabar mereka melalui SMS, Chat, FB, ataupun telpon, mungkin begitu pikirmu. Aku bukannya tak pernah melakukannya. I did, in the past, at the begining of my journey. Tapi lama kelamaan, terasa melelahkan, egoku mencuat, kenapa hanya aku yang berusaha mempertahankan ikatan yang telah ada, kenapa harus aku yang memulai duluan. Egoku mengalahkanku dalam tahun-tahun berikutnya aku di tanah rantau ini. Dan kini Roxette dalam melodinya yang sederhana kembali mengingatkanku akan kenangan ketika berbagi cerita adalah keseharian yang tak menjadi beban, buatku dan para sahabatku. Speak to me, my friends, not only about your happiness but also your bitterness, even when I cant give you any comfort words, I’m still here to listen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s