[Info Lomba] Curhat Move On

[Info Lomba] Curhat Move On

Lagi browsing ga jelas doank pagi ini, aku menemukan info lomba menulis kisah gokil masa sekolah di websitenya Annida. Lomba ini diadakan oleh oleh Gradien Mediatama. Berhubung kisah hidupku semasa berseragam tidak terlalu menarik, aku tidak terlalu berminat dengan lomba ini. Tapi, meskipun tidak berminat, aku tetap saja menyambangi situs resminya Gradien Mediatama.

Di situs tersebut, aku malah menemukan info lomba yang lebih menarik perhatianku. Yep, lombanya tentang menulis kisah nyata kita tentang proses move on yang pernah kita alami. Mmm, thinking about your past love story now? Hoho.

Ini nih syarat-syaratnya:

Syarat Peserta

  • Kumcer ini terbuka bagi siapa saja yang mau ikutan.
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutkan maksimal TIGA naskah terbaiknya.
  • Tuliskan profil singkat penulis dalam format narasi di akhir cerita, dalam 8 kalimat.

Syarat Naskah

  • Naskah berkisah seputar penyebab kamu remuk-redam dan bergulat untuk Move On.
  • Panjang cerita 3- 5 halaman Word dengan format  A4, 1,5 spasi, Arial 11 pt.
  • Meski harus dituturkan dengan hati perih, cerita tidak diizinkan ber-SARA dan ber-PORNO.
  • Setiap naskah harus dilengkapi dengan Formulir yang bisa dicopy dari sini.
  • Naskah dikirim dalam bentuk lampiran file ke:
  • E-mail: pestanaskahgradien(at)yahoo.com
  • Subject: CMO ………… (nama kamu)
  • Naskah paling lambat diterima pada 28 Juni 2012. Daftar peserta terpilih akan diumumkan pada 31 Juli 2012.
  • Naskah terpilih menjadi hak panitia untuk diterbitkan, dan naskah yang tidak terpilih tidak akan dikirimkan kembali.
  • Keputusan Tim Juri adalah mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat terkait dengan lomba ini.

Seleksi & Apresiasi

Tim Redaksi Gradien Mediatama akan menyeleksi 30-40 naskah terpilih untuk diterbitkan dalam buku Curhat Move On.Setiap naskah yang terpilih akan menerima apresiasi berupa:

  • Sponsor Dinner seorang diri Rp100.000,-
  • Suvenir spesial
  • Paket buku
  • Bukti terbit

Ketentuan Khusus

Apabila naskah yang masuk tidak memenuhi kualifikasi kualitas sebanyak 30-40 terpilih, maka penerbit Gradien Meditama berhak melakukan re-launching lomba ini untuk mendapatkan naskah baru guna memenuhi kuota 30-40 naskah.

Nah, info lengkap akses ke sini ya: http://www.gradienmediatama.com/berita_detail.php?act=view&id=280

Ayo, ayo, daripada disimpen-simpen bikin sesek, mending ditulis terus untung-untung diterbitin, hehe

Advertisements
Tragedi Alhur IPB

Tragedi Alhur IPB

Kejadian ini sedang ramai dibicarakan di berbagai media. Kejadian yang terjadi menjelang shalat Jumat, 25 Mei 2012 kemarin ini memang menyentakkan, terutama untuk kalangan dalam IPB. Dua orang Unit Keamanan Kampus (UKK) meninggal ketika menghalangi aksi dua orang pelaku curanmor di pelataran parkir mesjid Al-Huriyah IPB. Sungguh berita yang tidak di sangka-sangka, di tengah siang bolong, ada darah yang tergenang di area masjid Alhur IPB.

Aku sendiri sedang tidak berada di kampus saat kejadian berlangsung, dan hanya mendengar berita dari sms jarkom dan akun twitter teman-teman. Berita yang menyebar pun simpang siur. Kronologis kejadian bervariasi. Tapi sama sekali tidak mengubah fakta, dua orang UKK IPB tewas tertembak ketika mengemban tugasnya. Heroik, tapi juga tragedik.

IPB berduka, timeline di twitter dan news feed di FB sesak oleh berita tersebut. Dari dulu aku paham, kampusku bukanlah area aman tanpa manusia-manusia bertujuan busuk yang datang entah dari mana. Tapi sungguh aku tak menyangka, ketidakamanan area kampusku sampai merenggut nyawa seseorang, ah, bukan, dua orang malah.

Malam kemarin, kudengar penjagaan diperketat, semua pintu dijaga. Kami diperingatkan untuk tidak menyusuri area belakang kampus, karena diperkirakan pelaku masih berada di area kampus. Akhirnya, motor pelaku ditemukan di hutan belakang rektorat, namun pelaku bersenjata tersebut masih belum ditemukan hingga saat ini.

Semoga ini tragedi terakhir yang terjadi di kampus rakyat ini dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, ah, dan semoga dua orang pelaku tersebut segera tertangkap dan menerima ganjaran atas perbuatan mereka. Amin Ya Robbal Alamin.

The Avengers : Sekilas Pandang

The Avengers : Sekilas Pandang

Ya, I know what you think. It’s a little bit too late for a review, right?

Yaa, mau gimana lagi, baru sempat nontonnya kemaren. hehe

Yups, akhirnya setelah sekian lama, akhirnya aku mengerti lelucon-lelucon yang dilontarkan para pengguna 9GAG.  (‾ه‾҂)9

Film ini bercerita tentang sebuah tim superhore eh superhero yang dikumpulkan oleh Nick Furry untuk menyelamatkan dunia dari rencana jahat Loki yang ingin menguasai Bumi. Tim superhero yang disebut The Avengers ini terdiri atas 6 orang yang namanya sudah tak asing di telinga kita: Ironman, Captain America, Hulk, Black Widow, Hawkeye, dan Thor. Tim yang terdiri atas pribadi-pribadi nyentrik dan individualis ini terpaksa harus bekerja sama karena Loki dan pasukannya berencana untuk menguasai Bumi yang mereka cintai. Meskipun banyak konflik yang muncul di awal kerjasama mereka, namun akhirnya mereka berhasil memberikan aksi terbaik mereka untuk mengalahkan Loki dan menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Film yang berdurasi 143 menit ini (yang sangat lama menurutku) tidaklah se WAH koar-koar yang kudengar sebelumnya. Jadi, jujur sebenarnya Read more

Fisioterapi Telinga

Fisioterapi Telinga

Pernah dengar kata fisioterapi belum? Sebelumnya pasti pernah dengar, tapi ga ngeh itu apaan. Aku juga udah lama dengar tapi baru ngeh artinya kemaren.

FISIOTERAPI adalah bentuk pelayanan Kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan ( fisik, elektroterapeutis dan mekanis ), pelatihan fungsi, komunikasi.

Pengertian itu kudapatkan dari potongan postingan di http://fisiosby.com/profil/pengertian-fisioterapi/

Kenapa tiba-tiba aku bahas fisioterapi? Karena kemarin aku juga tiba-tiba harus menjalani sesi terapinya. Ada banyak hal yang diampu oleh bagian fisioterapi ini. Pasien yang datang untuk terapi juga memiliki berbagai macam keluhan, jadi bukan hanya keluhan fungsi gerak tubuh saja. Contohnya aku, yang mengalami gangguan pada gendang telinga dan mbak-mbak yang kutemui di ruang tunggu RS yang menderita sinus. Fisioterapi membantu penyembuhan rawat jalan disamping obat-obatan yang dikonsumsi.

Untuk kasusku kemaren, aku didiagnosis menderita OMA (Otitis Media Akut) pada telinga kananku. Setelah lebih dari 3 minggu bolak-balik RS, sakit pada telingaku memang hilang. Tapi, karena dengingnya tak hilang juga, selain obat akhirnya aku juga disuruh terapi enam kali ke bagian fisioterapi.

Aku sih, tak terlalu mengerti apa fungsi dari terapi yang kulakukan. Tak ada yang sudi menjelaskan, dokter maupun perawatnya cuma bilang “telinganya dipanaskan ya”. Yaah, maklum lah, rumah sakit pemerintah, mereka ‘banyak urusan‘, jadi tak sempat menjelaskan secara rinci. Dan, memang selama kurang lebih setengah jam di terapi (setelah menunggu dokternya yang tak datang-datang kurang lebih 3jam ), telinga kananku memang hanya “dipanaskan” (menggunakan suatu alat mirip lampu yang memancarkan panas), setelah itu disuruh pulang.

Sejujurnya, aku tak tahu ada efek baiknya atau tidak, tapi yang kurasakan sih malah dengingnya terasa makin kuat. -_-

Entah itu karena baru pertama kali atau bagaimana. Hari ini, aku harus balik lagi ke RS, untuk sesi selanjutnya. Sungguh melelahkan fiuh. Semoga saja aku tidak harus menunggu 3 jam lagi seperti kemarin.

Renungan Sukhoi

Renungan Sukhoi

“Sedih liat berita pesawat sukhoi, 😦 , seandainya maut juga menjemputku tiba-tiba seperti itu, maafkan kesalahanku lahir batin ya.”

Begitu bunyi sms yang masuk ke ponselku sore ini. SMS dari seorang sahabat lama itu menyentakku. Hmm, dia benar, batinku. Begitu gampangnya nyawa teregang jika Sang Khaliq menginginkannya. Jatuhnya pesawat sukhoi superjet 100 tersebut yang didaulat baik-baik saja menjelang keberangkatan, mengisyaratkan kuasaNya tentang segala hal. Apapun bisa terjadi.

Lokasi jatuhnya pesawat tersebut di gunung Salak juga membuatku berpikir betapa dekatnya kematian itu sendiri. Dimana, kapan , dan bagaimana, sungguh misteri. Begitu dekat, tapi juga terasa begitu jauh.

Disini aku masih membuang waktuku, mengeluhkan ini dan itu. Sudah saatnya aku menghargai detikku., batinku lagi. SMS sahabatku tersebut juga membuatku bertanya-tanya, bekal apa yang sudah kupunya untuk menghadapi hisabNya?

Untitled

Untitled

hujan yang turun hari ini
di tengah mentari yang masih bersinar terik
gambarkan harmoni antara dua sisi yang tak serasi
ingatkan pada cerita lama yang terlupa

‘Tika rapuh itu berusaha menguat
di tengah ragu
dan rancu
berusaha teguhkan hati yang terlanjur retak

deru nafas ini masih terdengar
jantung ini masih berdetak
meski sumbing di sana sini
meski gamang di setiap sisi
meski hanya dikira menggertak
langkah ini akan kuteruskan

walau tahu ujungnya luka
walau paham tak ada terang di sana
aku terlanjur menyebranginya
kuputuskan untuk terus berjalan
tak menoleh lagi ke belakang

2-5-2012 16:08

[Cerpen] Buntu!

[Cerpen] Buntu!

H-4 Deadline…
Ha…parah…

Lagi-lagi aku kehilangan kata-kata. Lagi-lagi kataku tak punya makna. Lagi-lagi kataku tak menyampaikan apa-apa. Aku menatap layar komputerku frustasi. Barisan kata-kataku tak bertambah dari lima baris saja sejak 3 jam yang lalu.

“Huarggh!!!!!!!!!” pekikku. Hanya sunyi yang menyambut. Dinding kamar kosku pun tak menyahut. Penghuni lain juga tak merespon. Mereka terlalu percaya pada bualanku tentang inspirasi yang selalu datang dari erangan dan teriakanku.
Huah. Kepalaku buntu. Eh, salah kan, maksudku, otakku buntu.

Kualihkan pandanganku dari layar komputer ke ranjangku, buntu. Ke arah keranjang baju kotorku, buntu. Kuputar kepalaku ke tumpukan buku-buku di atas meja belajarku, aku teringat pada ujian tengah semester yang tinggal 2 hari lagi, membuatku semakin buntu dan buntu.

“Wuargh….!!!!” Teriakanku kembali membahana memantul ke dinding-dinding kamarku, menyelip di celah-celah ventilasi dan pintu dan entah terdengar entah sampai mana. Aku tak peduli.

“Aku tak peduli!!!” teriakku lagi, menyuarakan kekesalanku pada diri yang bodoh dan tak berbakat ini.

Hah, keningku berkedut-kedut, tampangku super kusut dan rambutku awut-awutan, membuatku terlihat tak jauh beda dengan Einstein yang mencibir di poster yang kupasang di depan pintu kamarku.

Oh, Tuhan, tolonglah hambaMu ini mencari inspirasi untuk menulis cerpen enam halaman saja. Enam halaman saja oh, Tuhan…,Cuma enam halaman ini Ya Tuhan…!, batinku.

Kruyuk…, genderang perutku yang menjawab. Hah, ini tak berguna. Mengeluh dan mendekam di kamar sepanjang hari sama sekali tak membantuku. Sudahlah, mungkin lebih baik kupenuhi saja tuntutan cacing-cacing peliharaanku ini dulu, semoga saja setelah itu mereka membantuku mencari inspirasi untuk menulis cerpen yang cukup bagus untuk kukirim ke lomba cerpen yang deadline-nya tinggal 4 hari lagi. Amin.
***
Aku menguyah makananku tak berselera. Kupandangi nasi goreng yang sebenarnya berbau harum itu dengan hampa. Hmm, apa aku membuat cerita tentang seorang koki atau tentang makanan saja ya? Ah, aku sendiri tidak bisa menanak nasi. Payah.

Pandanganku beralih ke kasir warteg tempatku makan. Ia menekuni angka-angka di bukunya dengan teliti. Sesekali menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. Memenuhi udara dengan partikel-partikel yang berbahaya bagi orang lain. Ia tipikal orang yang hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Tipe pria yang membagi kenalannya menjadi golongan yang menguntungkan baginya dan yang tidak. Tipe orang yang hanya perduli pada materi dan duniawi. Yak, sekian analisaku mengenai si kasir. Analisa yang kurang berguna sebenarnya, karena tidak membantuku sama sekali untuk mendapatkan inspirasi.

Dari kursiku yang menghadap ke jalanan, terlihat pasangan-pasangan tampak berjalan berdampingan tertawa-tawa sambil saling melemparkan pandangan mesra. Hmm, kisah cinta sepertinya cukup bagus untuk menjadi tema cerpen kali ini. Tapi, lagi-lagi, aku sendiri belum pernah mengalami kisah cinta yang mendebarkan hati. Jika ditanya apa itu cinta, aku mungkin akan mengalihkan pembicaraan dengan berkata polos, “Ehm, makan yuk!”

Meski aku pernah mendengar seseorang berkata kepadaku, ‘Kadang, yang tak pernah mengalami, menuliskannya, sedang yang mengalaminya kadang malah menyimpannya sendiri.’

Fantasi dan imajinasi. Mungkin itu adalah masalah terbesarku sebagai seorang penulis. Sebenarnya dari dulu aku sudah tahu itu. Tapi, aku hanya tak ingin berhenti pada satu kenyataan yang berkata aku sudah pada batasku. Aku hanya tak ingin menyerah, meski aku butuh berhari-hari untuk menuliskan kisahku. Keras kepala, mungkin.

Ahh, aku melantur. Seharusnya aku berkonsentrasi pada ceritaku, bukannya mengorek-ngorek kekuranganku sendiri. Sebelah tanganku mengaduk-ngaduk nasi goreng. Lagi-lagi buntu.

Buntu.
Buntu.
Buntu.
***
Wajahku kembali berhadapan dengan layar komputer. Menatap hampa, tanpa insipirasi. Teriakan dan erangan tak lagi membantu. Nasi goreng yang lezat pun hanya membahagiakan cacing-cacing peliharaanku.

Mungkin kau hanya harus menyerah. Sebuah suara berkata dalam benakku.

Mataku lelah, kemana pun kuarahkan pandangan mataku, yang kulihat hanyalah kata buntu dimana-mana. Tidak di ranjang, keranjang cucian, meja belajar, ataupun di poster Einstein yang selalu mencibir itu.

Tuh kan, kau memang tidak berbakat. Suara itu menggaduh kembali. Ah, diam!

Aku menengadah ke langit-langit kamarku. Memejamkan mata. Berusaha mengingat lembaran-lembaran hidupku yang bisa dijadikan referensi. Aku hidup di keluarga yang terlalu realistis. Dimana mimpi adalah sesuatu yang janggal. Dimana hidup adalah sebuah perjalanan yang tidak muluk-muluk. Dimana menjadi pegawai negeri adalah pilihan yang dianggap paling nyaman dan aman untuk diambil.

Sebagai anak paling bontot, aku merupakan bocah terakhir yang memerlukan biaya. Kedua orang kakakku telah bekerja sebagai pegawai negeri—sesuai harapan orangtuaku. Aku ingin punya mimpi. Meski mimpi itu akan diolok ibuku sepanjang hidupnya. Aku merasa berhak untuk bermimpi. Walau mimpi itu adalah sesuatu yang berada di luar jangkauanku.

“Menyerahlah, lupakan saja mimpi mulukmu! Karyamu tak bermutu,”, kata-kata ibuku dulu terngiang lagi di kepalaku.

Ah Ibu, tahukah kau betapa inginnya anakmu ini menjadi seorang penulis ternama. Seorang penulis yang mampu menggoreskan kata-kata penuh makna yang mampu membuat pembacanya tersenyum, tertawa, menangis dan berbagai emosi lain yang berdiam di setiap diri manusia. Seseorang yang bisa menjadi inspirasi bagi orang lain seperti para penulis idolaku. Aku ingin. Tapi, entah kenapa, setiap kali aku berusaha menuliskan ide-ide yang terlintas, ia lantas menguap begitu saja. Membuatku lagi-lagi mengeluarkan erangan-erangan aneh ketika berada di depan monitor komputerku.

Demi mimpi itu juga, aku masuk ke universitas di kota lain dengan harapan ketika jauh dari ibuku dan ejekannya tentang betapa aku tidak berbakat, aku mampu mengembangkan intuisiku sebagai seorang penulis.

Aku meninggalkan kotaku dengan tekad bulat, bahwa aku akan membuktikan pada ibu, aku bisa. Aku bukan sekedar pemimpi yang tak berjuang. Karena punya mimpilah, aku berjuang. Ketika pertama kali aku menginjak aroma kampus yang masih begitu asing, aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan menyerah.

Aku membuka mataku perlahan. Terasa panas di kedua sudutnya. Ya, benar, aku telah berjanji. Aku akan memenuhinya meski itu akan memakan waktu puluhan tahun atau ratusan tahun sekalipun. Meski kata buntu bertumpuk-tumpuk sekalipun di kamarku. Aku tidak boleh menyerah.

Meski Ibu tak akan pernah mendukungku selamanya, aku akan buktikan kalau waktu akan mendewasakanku dan karyaku. Akan kubuat kau bangga Ibu pada mimpiku yang kau anggap hanya mimpi kekanakan yang tidak akan membuatku bahagia. Meski jalan ini mungkin masih sangat panjang. Aku tidak akan menyerah. Untukmu, dan untuk janjiku.

Naifnya, suara itu berisik lagi.
“Silahkan tertawa! Aku tidak akan menyerah!” pekikku pada kesunyian kamarku.

Jam dinding yang tergantung miring di kamarku menunjukkan pukul empat sore. Aku merasakan lelah di punggungku. Mungkin aku perlu istirahat sejenak dan memulainya lagi nanti. Semoga, ketika terjaga nanti, sebuah ide brilian akan muncul dengan dramatisnya. Amin, desisku seraya perlahan berbaring, berharap dunia mimpi merengkuhku mesra dengan segera. Ah, dan semoga ide itu bisa kutuangkan dalam enam halaman cerpen yang menginspirasi. Amin lagi.
***