Masuk Jurusan Komputer Sia-Sia? Kata si A yang Tidak Pernah Kuliah Computing

Masuk Jurusan Komputer Sia-Sia? Kata si A yang Tidak Pernah Kuliah Computing

Baru-baru ini sempat ramai dibahas di timeline FB-ku mengenai artikel si A yang dengan lantang menyatakan bahwa kuliah di jurusan komputer itu sia-sia belaka. Judulnya yang provokatif membuatku akhirnya memutuskan untuk membaca celotehan beliau. Setelah membaca tulisan si A tersebut,  jiwaku terusik untuk meluruskan persepsi yang beliau bangun, dikarenakan ada banyak hal yang kalau menurut bahasa beliau, SALAH KAPRAH.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai artikel tersebut, aku ingin menekankan terlebih dahulu, bahwa artikel tersebut ditulis oleh seorang programmer yang (katanya) sudah sangat berpengalaman, namun bukanlah seorang lulusan jurusan komputer. Beliau pun sudah malang melintang di dunia IT, dan merasa lebih hebat daripada yang mengaku lulusan IT.

Inti dari artikel tersebut, menyarankan janganlah memilih jurusan komputer pada saat memilih pendidikan tinggi, karena ilmu yang didapat nantinya tidak bisa digunakan di dunia kerja, alias sia-sia.

DI SINILAH BELIAU SALAH KAPRAH. Kenapa? Dunia kerja yang beliau lihat dari seorang lulusan jurusan komputer harusnya berakhir sebagai seorang programmer. Padahal, faktanya, setiap jurusan komputer memiliki visi pendidikan yang berbeda-beda, dan melahirkan lulusan dengan kompetensi yang berbeda-beda pula.

Seorang sarjana Ilmu Komputer (Computer Science) tidak akan memiliki komposisi ilmu yang sama dengan seorang sarjana Teknik Informatika (Information Technology). Apalagi dengan seorang Diploma Manajemen Informatika. Dari tiga contoh yang saya sebutkan di atas saja, TIDAK SATUPUN di antaranya yang bercita-cita mencetak mahasiswanya sebagai programmer.

Jadi, yang SALAH KAPRAH adalah beliau, yang MEMATOK bahwa jurusan komputer APAPUN harus menjadi seorang PROGRAMMER. Padahal, ada banyak jenis pekerjaan di ruang lingkup dunia IT, programmer hanyalah secuilnya saja. Ketidaktahuan itu memang mengerikan. Sebuah artikel lama Pak Romi Satria Wahono ini mungkin akan membuka mata kita dengan lebih baik mengenai karakteristik setiap jurusan komputer yang ada beserta golnya.

Lebih lanjut lagi beliau berpendapat, bahwa jurusan komputer hanya melulu berisi teori belaka, praktiknya nol besar. Di sini beliau bukan hanya salah kaprah, tapi SALAH BESAR.  Aku sebagai seorang lulusan Ilmu Komputer IPB merasakan bahwa ada banyak sekali kesempatan praktik yang diberikan sepanjang masa pendidikanku.

Setiap tahapan SDLC (Software Development Life Cycle) dan teknik programming yang diajarkan kepada para mahasiswa, juga diberikan praktiknya berupa proyek-proyek kuliah yang mengimplementasikan teori tersebut. Salah besar jika mengatakan praktiknya nol.

Namun, memang tidak bisa dimungkiri, tidak semua mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengasah kemampuan coding mereka, sebab tidak semuanya berminat ngoding. Pak Romi Satrio Wahono pun pernah membahas mengenai kurangnya kemampuan ngoding mahasiswa computing Indonesia (baca di sini).

Tapi balik lagi, kurangnya kemampuan tersebut bukan hanya disebabkan oleh faktor kurikulum (aku tidak tahu kalau di univ lain, tapi di IPB menurutku tidak), tapi juga faktor kemalasan mahasiswanya sendiri. Jadi, apakah karena dia memilih jurusan komputer maka dia tidak bisa coding? Tentu saja tidak, itu semua tergantung pada minat dan bakat mahasiswanya sendiri.

Coding itu skill, memang bisa dipelajari secara otodidak ataupun melalui kursus intensif, tidak harus melalui jenjang pendidikan tinggi. Tapi apakah jika seseorang berniat menjadi programmer, kemudian dia memilih jurusan komputer, ilmu yang dia pelajari SIA-SIA? Hal seperti itu tentunya hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang memang belum pernah merasakan sendiri menjadi seorang mahasiswa computing, dan memahami esensi studi computing itu sendiri.

Pengembangan software itu lebih luas dari sekadar coding saja. Coding hanyalah bagian kecil dari proses pengembangan software itu sendiri. Kualitas coding pun ditentukan dari seberapa dalam sang programmer memahami esensi proses tersebut.

Seseorang yang hanya bisa coding tanpa melalui pemahaman terhadap proses besarannya tentunya tidak akan menghasilkan software berkualitas sama dengan seseorang yang memiliki ilmu dan pemahaman lebih.

Ibarat kata, programmer yang hanya bisa coding tidak lebih dari seorang tukang jahit yang hanya bekerja sesuai perintah sang desainer.

So, para calon mahasiswa, para orang tua, sebelum menjatuhkan pilihan pada salah satu jurusan computing yang ada, baca baik-baik dulu kurikulum jurusan tersebut, supaya tidak ada salah kaprah dan salah ekspektasi. Cerdas memilih, dan ingatlah:

Tidak ada ilmu yang sia-sia, yang ada hanya manusia yang menyia-nyiakan ilmu yang dia punya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s