Larangan Berjilbab Syar’i di BUMN

Larangan Berjilbab Syar’i di BUMN

*sekedar celotehan sore*

Lagi santer kisruh soal larangan berjilbab bener (baca: syar’i) di BUMN yang konon kabarnya dikeluarkan oleh sang menteri BUMN sendiri. Aku baru tahu ternyata BUMN juga punya aturan seperti ini. Sebenarnya hal seperti ini sudah menjadi hal yang umum malah di dunia perbankan, setauku, hampir semua bank konvensional tidak membolehkan karyawati mereka memakai jilbab yang syar’i. Standar mereka adalah jilbab model turki yang diikatkan ke leher dan dimasukkan ke dalam blazer.  Kepolisian pun menetapkan standar yang sama. Tapi kenapa tidak pernah ada heboh-hebohnya?

Tidak percaya? Pada saat orientasi untuk pegawai baru bank, akan di sampaikan contoh pakaian untuk yang berkerudung adalah tidak boleh jilbabnya melebihi bahu dan ditata rapi dengan diikatkan ke leher seperti jilbab wanita-wanita turki. Aku tidak tahu apakah ada aturan tertulis mengikat yang menuliskan dengan gamblang larangannya, tapi contoh gambar dan yang disampaikan secara lisan adalah seperti itu. Setidaknya itu yang kutahu.

Jujur, aku bukan manusia suci yang sudah menjalankan agamanya dengan baik. Tapi, ketika aku mendengar larangan menjulurkan jilbab, ada sedikit nyesek juga di hati. Konsekuensi katanya, mau uangnya, harus mau aturannya, UU kebebasan beragama tak akan banyak menyelamatkan di dunia nyata. Realita bicara.

Ya kalau di perbankan konvensional sih aku masih bisa memaklumkan diri, mana ada orang yang benar-benar paham agama mau coba-coba mencari rizki di industri abu-abu seperti ini —-dan aku termasuk ke dalam yang tidak mendalami agama ^^;. Adanya peraturan-peraturan yang  tidak sejalan dengan syariat Islam seharusnya bukan kejutan lagi—-makanya dari dulu ga pernah ada kisruhnya. Kebanyakan muslimah yang kukenal bekerja di perbankan juga tidak keberatan mengenai aturan berbusananya—-walau ada beberapa yang mempertahankan prinsipnya meski was-was menunggu teguran. Berita soal karyawati BUMN yang menghadapi dilema yang sama membuat miris. Kasihan sekali, sudah sengaja tidak di bank tapi kebebasan beragamanya tetap ditindas.

Aku hanya berharap, semua tempat bekerja yang ada di bumi milik Allah ini lebih menghormati aturanNya daripada aturan yang mereka definisikan sendiri. Jangan sampai mereka membatasi ketaatan hambaNya, yang awalnya ingin memperbaiki diri, malah harus semakin menurunkan kualitas ketaatannya. Semoga para pemimpin perusahaan, pemimpin negeri ini, diberikan hidayah dan kebijaksanaan agar negeri ini benar-benar bebas merdeka, tidak lagi terjajah oleh aturan-aturan manusia yang lebih banyak memperjuangkan duniawi daripada surgawi. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s