Hua, kembali ke dr. THT, part sekian-sekian

Hua, kembali ke dr. THT, part sekian-sekian

Yep, derita Sinus ditambah rhinitis alergy yang kuderita membuat permasalahan dengan hidungku yang ga mancung-mancung juga meski dipencet tiap hari karena pilek ini– semakin panjang saja.

Dari postinganku yang sebelumnya, hingga sabtu lalu, hampir tiap akhir minggu kuhabiskan untuk mengunjungi dr. Asno di RS Hermina Depok. Total antibiotik yang kutelan juga ga kurang-kurang lagi, saking banyaknya, udah lost-track. -_-. Komposisi obat yang diberikan dr.Asno tidak berubah, tetap terdiri dari 3 macam: antibiotik, obat pilek (yg selalu ada kandungan pseudoefedrin HCL nya), dan obat batuk, tapi merk-nya ganti-ganti terus tiap minggu. Haha.

Sebenarnya di pertengahan bulan mei kemaren, aku sempat mencoba ke RS super mahal Ciranjang, karena merasa setelah sebelumnya cairan hidungku disedot paksa (ampe mimisan) oleh si dr. Asno, rasa mampetnya berubah menjadi nyeri tumpul di pangkal hidung. Setelah mengeluarkan uang yang tidak sedikit di Ciranjang (biaya dr yang lebih mahal karena notabenenya sebagai profesor plus ternyata di sini pemeriksaan dengan kamera ada biaya tambahan, padahal di hermina ga) dengan dokter yang entah kenapa sangat paranoid aku menyampaikan kebohongan dan akan memintanya untuk mengdaulat tindakan dr. Asno tidak tepat–padahal aku hanya ingin tanya pendapatnya saja– aku tetap tidak merasa membaik.  Dalam hati juga tidak puas sih dengan cara dokter itu menanganiku yang seperti tidak punya kemampuan berempati pada pasiennya dan sikapnya yang over-reacting. Akhirnya aku balik lagi konsul dengan dr. Asno. At least, he’s better in explaining and hearing my complains.

dr. Asno sebenarnya juga agak bingung, menurutnya, karena masih ringan, harusnya sudah bersih dengan antibiotik2 selama ini, tapi mungkin karena diperburuk dengan alergi yang kuderita, penderitaanku masih kontinu sampai hari ini.  Atau mungkin sedekahku saja yang kurang. Haha *tawa miris*.

Ada hal yang lucu, ketika pemeriksaan dua minggu lalu. Aku menyatakan pada dr. Asno alasanku tidak langsung kontrol ketika keluhan masih berlanjut adalah karena kurang biaya plus tidak punya asuransi dan status bpjs pps BRI yang tidak jelas. Setelah mendengar pernyataan seperti itu,  semua obat yang beliau resepkan berubah menjadi deretan obat generik (kecuali obat pileknya, karena tidak ada generiknya, tapi setidaknya ga dikasih yang semahal Fexofed). Yeay. Haha, harusnya dari dulu aja bilangnya. Gitu tuh harusnya dokter yang baik! Jangan demi bonus penjualan obat aja, dikasih yang super muahal, padahal generiknya ada. Yah semoga lah, minggu ini tidak perlu setor muka dengan beliau lagi. Bangkrut meeen, tiap minggu setor duit ke Hermina. Duh yak!

One thought on “Hua, kembali ke dr. THT, part sekian-sekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s