Sedikit Uneg-Uneg dari Meja Seorang Trainee

Sedikit Uneg-Uneg dari Meja Seorang Trainee

Sembilan bulan sudah menyandang status trainee di bank yang namanya tersohor ke seantero negeri ini. How is it?

Ha, pertanyaan sulit. Hidup sebagai (calon) pegawai korporat dari awal bukanlah impianku. Bukannya tidak bersyukur, tapi terdampar di perusahaan yang mungkin adalah target banyak orang ini bukanlah sebuah pilihan yang kuagendakan. Lebih kepada nasib pengangguran membuatku menyambar kesempatan apapun yang muncul di depanku.

Setelah melalui berbagai macam bentuk pekerjaan, memang hanya inilah yang menawarkan kemapanan dan kestabilan. Namun, entah kenapa, ada ketidakpuasan yang tidak bisa kuenyahkan dari benakku.

Aku yang biasa hidup per-project dengan manajemen dan kultur yang border-less antar atasan bawahan maupun senior-junior membuatku sedikit sulit beradaptasi dengan kondisi yang kuhadapi saat ini. Keingintahuan yang tidak terpuaskan dan pelaksanaan proses yang melenceng dari gambaranku atas standar seharusnya membuat batinku tak henti-hentinya protes.

Sahabatku berkata, aku adalah makhluk paling tidak sabaran yang terlalu cepat frustasi atas ke-tidak-ideal-an lingkunganku. Mungkin dia benar, namun kesemrawutan yang kulihat dan kurasakan melebihi ekspektasiku atas sebuah perusahaan yang seharusnya sudah settle dan rapi, baik secara prosedur maupun organisasi.

Para senior, mungkin menganggapku sebagai spoiled-brat yang menghabiskan harinya dengan ngedumel dan tidak bekerja selayaknya seorang (calon) pegawai yang baik. Tapi ketidakpuasan yang menumpuk di dadaku, dari hari ke hari bukannya memudar, malah semakin pekat dan menyesakkan. Sebagai seorang idealis yang mendambakan ruang kerja yang mendukung pengembangan pribadi dan menyuburkan kreatifitas serta memberikan kebebasan berekspresi, sungguh aku tidak bisa lebih salah tempat lagi.

Hidup itu pilihan dan aku bukannya tidak punya pilihan lagi saat ini. Tapi pilihan yang kuinginkan akan membuatku mengorbankan sesuatu yang belum siap untuk kurelakan. Harga yang harus kubayar terlalu besar untuk menenangkan jiwaku yang tidak menikmati sedetik pun hari-hari yang kujalani saat ini. Allah tau yang terbaik untukku, saat ini aku hanya berharap padaNya untuk membantuku mengambil keputusan kemana haluan kapalku harus kuarahkan.

Disclaimer:

Tulisan ini tidak kumaksudkan sebagai black-campaign atau menjatuhkan pihak manapun, hanyalah sebuah curahan hati dari seorang (calon) pegawai yang tidak mampu beradaptasi dengan kultur korporat yang dimasukinya.

3 thoughts on “Sedikit Uneg-Uneg dari Meja Seorang Trainee

  1. Misi Mbak,
    Saya tadi baca-baca tulisan di blog ini yang kaitannya dengan PPS TI BRI, karena kebetulan sedang proses rekrutmen juga.
    Kayanya tipikal saya cenderung sama dengan Mbak disini (cepat tidak puas akan sesuatu dan cenderung berontak, ingin cari yang lain).
    Saya kebetulan masih bekerja di salah satu perusahaan konsultan, IT Consulting tapi kurang menyentuh bagian teknis (lebih banyak audit dan kajian atau review). Saya sedang gusar di tempat kerja saya yang sekarang karena beberapa hal dari perusahaan saya yang saya pikir kurang memuaskan (masalah gaji, tunjangan, regulasi, dll) sehingga saya coba-coba cari di tempat lain dan kebetulan dipanggil oleh BRI.
    Kebetulan sekarang sedang ada di tahap kedua, diinvite untuk psikotest dan test lainnya. Tapi saya ragu juga. Dari yang saya baca di artikel yang ditulis seperti pekerjaan yang kurang memberi kebahagiaan buat pegawai, dan kurang bisa berkembang. Nah, karena saya juga sebetulnya tidak ingin melepaskan yang sekarang demi pekerjaan yang mungkin belum tentu diterima dan belum tentu cocok untuk saya (ini pengalaman kali pertama saya ikut semacam MT, setelah setahun lulus dan bekerja), apa boleh saya tanya-tanya banyak ke Mbak humble yang nulis blog ini? Karena tempat saya juga sangat sulit untuk minta cuti, dan harus responsible dengan deadline project T.T. Jadi saya berpikir lama sekali kalau mau ambil cuti untuk betul-betul mencari pekerjaan, apa ini betul-betul worth it?

    Apa bisa bagi contact nomor atau sosmed mba? Biar saya ada pencerahan sedikit ini passion saya atau bukan , hhe

    Makasi sebelumnya

    1. Halo Nadya,

      Terima kasih sudah mampir di blog sepi ini, hehe.

      Hm, aku mendapatkan pelajaran dengan mengorbankan sesuatu yang kuperoleh dengan darah dan air mata. Pelajaran apa itu? Ketika sebuah perusahaan menawarkan kamu pekerjaan, tapi dengan iming-iming harus meninggalkan ijazahmu sebagai jaminan, saat itu harusnya kamu sudah mulai alert. Perusahaan yang harus melakukan hal seperti ini adalah perusahaan-perusahaan yang tidak yakin bakal bisa menumbuhkan sense of belonging para pegawainya. Perusahaan-perusahaan dengan turn-over pegawai yang tinggi.
      Sayangnya aku terlalu desperate pada saat itu untuk mempertimbangkan hal ini (meskipun sebenarnya sudah terlintas di kepala).

      Jika kamu adalah jiwa yang bebas dan idealis, BUMN bukanlah pilihan yang bijak karena di tempat-tempat seperti ini karaktermu justru akan terbunuh.

      Tapi sekali lagi, hidup itu adalah pilihan, dan jalan seperti apa yang kamu inginkan, cuma kamu yang tahu.

      kamu bisa pm aku di twitter @boredbeingme kalau pengen ngobrol lebih lanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s