Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Jika setiap anggota tubuh bisa punya preferensi sendiri terhadap si empunya tubuh, mungkin hidungku adalah anggota tubuh yang paling membenciku.

Bagaimana tidak, sepanjang tahun ini rasanya tidak terhitung lagi banyaknya hari-hari berlalu dengan siksaannya padaku.

Seakan tidak puas dengan kunjungan berkali-kali ke dokter Asno sepanjang tahun 2016 ini, di akhir tahun pun, ia memaksaku untuk setor muka pada sang dokter. Tidak hanya sekali, tapi dua kali pulak.

Ya, efek berminggu-minggu dengan hidung super mampet dan nyeri tumpul di pangkal hidung, ditutup dengan mimisan seminggu penuh, aku akhirnya mengalah dan memutuskan untuk kembali ke dokter THT, lagi, dan lagi.

Antrian panjang dokter Asno dan telepon pendaftaran Hermina yang sangat sibuk, membuatku berakhir dengan nomor antrian 32 untuk kunjungan pertamaku. Kau tahu, kunjungan pertama ini menghabiskan sepanjang malam Sabtu-ku di kursi tunggu Hermina. Antrian konsultasi dan obat, membuatku baru bisa pulang tengah malam. Seolah aku berubah jadi Cinderella-nya Hermina. -_-

Seperti yang sudah kuduga pun, kunjungan pertama ini hanya berakhir dengan kombinasi obat yang sudah sangat kuhafal: antibiotik + dekongestan + obat batuk/pengencer dahak. Yang berbeda dengan kasus mimisan sebelumnya (selain jumlah darah yang lebih banyak dan tetesan darah yang masih terlihat pada saat sinuskopi) adalah merek obat yang diresepkan oleh dr. Asno.

Berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya yang mana lebih banyak diresepkan obat generik, kali ini resepnya berisi obat paten yang mahalnya berkali-kali lipat obat generik. Kenapa bisa beda? Karena kali ini aku menggunakan asuransi, jadi ketimbang meresepkan antibiotik generik Cefixime, dr.Asno lebih memilih meresepkan Sporetik yang harganya 10x lipat. Haha.

Dan karena kunjungan kali ini menggunakan asuransi, seluruh obat harus ditebus di rumah sakit sekalian, meskipun Apotik RS. Hermina menjual obat di atas HET (Harga Eceran Tertinggi) yang dicantumkan di obatnya. Ya sudahlah. Untungnya karena ini penggunaan perdana, limit asuransi yang baru kupunya ini masih lebih dari cukup untuk meng-cover semuanya. Total biaya untuk kunjungan pertama ke dokter THT ini Rp545.400,00 dengan rincian:

Biaya obat:                                               Rp247.400,00

Biaya dokter THT:                                Rp174.000,00

Biaya endoskopi/sinuskopi:            Rp124.000,00

Dengan mata mengantuk dan tubuh yang lelah karena antrian mengerikan di malam itu, aku dan suami akhirnya pulang dengan harapan tiga obat ini bisa membantuku untuk tidur tenang di malam hari (sudah berminggu-minggu aku kurang tidur karena mampetnya hidung ini membuatku susah bernapas).

Setelah antibiotik habis, aku diminta dr.Asno untuk kontrol, melihat apakah pendarahannya masih berlanjut atau ada infeksi tambahan (yang sebenarnya tidak terlihat pada saat endoskopi, dan pemberian antibiotik hanya untuk mencegah darah menjadi sumber infeksi).

Update kunjungan keduanya nanti ya, mau menyelesaikan tumpukan pekerjaan editing dulu. Hehe.

Semoga kalian semua sehat selalu, karena sakit itu muahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal….:v

=====

Suka dengan tulisan Fairhie di atas? Fairhie bisa bantu kamu buat nulis konten menarik kayak di atas untuk blog atau website kamu loh! Yuk mampir ke toko Fairhiepedia!

Advertisements

One thought on “Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s