[Cerpen] Balada Sang Drama Queen

[Cerpen] Balada Sang Drama Queen

Satu lagi cerita coretanku yang karena gagal dimuat di majalah kesayanganku, ya sudah, kumuat disini saja, *tawa miris*

     Wajahnya yang bulat menyiratkan kesedihan mendalam. Mata besarnya yang biasanya tampak bersinar-sinar, kini tampak seperti danau di malam hari, sendu dan muram. Berkali-kali ia menghembuskan nafas panjang, sambil sesekali menatap jauh pada jendela yang bergemeretak ditampar-tampar badai di luar sana. Sungguh suasana yang terlalu mendukung kemuramannya.
“Ada apa, Fa?”, tanyaku sembari membawa tumpukan skripsi yang ingin kujadikan referensi.  Dia hanya mengangkat kepalanya perlahan, menatapku dengan tatapan kosong lalu kembali menerawang ke arah jendela. “Aku nggak ngerti kalo kamu ga ngomong,”, sambungku sambil membuka-buka halaman skripsi.
Gadis yang biasanya bawel itu tetap dalam keheningannya. Bahkan meskipun hari ini aku memakai jilbab berwarna ungu yang sangat dibencinya, dia tetap tak berkomentar sejak awal aku menyeretnya  dari asrama ke perpustakaan ini. Aku tak tahu pasti apa yang sedang menganggu pikirannya, tapi rasanya aku bisa menebak. Pasti ini ada hubungannya dengan berita yang kudengar beberapa hari yang lalu. Berita pernikahannya Kak Hadi, senior kami. Tapi aku tak berani menanyakan langsung kepadanya, karena aku tak bisa memprediksi reaksinya. Gawat kalau dia tiba-tiba menangis meraung disini. Jadi kuputuskan aku akan diam sambil menunggu dia yang bercerita.
Aku sudah biasa dengan aksinya yang melodramatik. Hampir enam tahun mengenal sifatnya yang melankolis itu membuatku tak lagi terkejut dengan ekspresi muram dan kesedihannya yang ekstrim. Drama queen,  itu julukannya waktu SMA. Ia memang suka mendramatisir setiap episode kehidupannya. Namun, kali ini aku tak akan memarahinya, karena jika tebakanku benar, kali ini memang benar-benar sebuah drama yang tak kalah dengan FTV siang hari.
Ia masih tetap seperti patung tanpa nyawa. Entah dia berharap aku bertanya atau tidak, yang jelas aku jadi tidak bisa berkonsentrasi membaca skripsi-skripsi di depanku.
“Nis,”, desisnya tiba-tiba, mengejutkanku yang sedang asyik dengan pikiranku.
“Ha?”, ujarku berusaha sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutanku.
Ia mematung kembali. Haduh, ini anak.. “Hoy, ada apaan sih?”, kataku sambil mencubit sebelah pipinya yang chubby.
Ia kembali mengejutkanku dengan tiba-tiba meneteskan air mata bertubi-tubi.
Advertisements
[Info Lomba] Curhat Move On

[Info Lomba] Curhat Move On

Lagi browsing ga jelas doank pagi ini, aku menemukan info lomba menulis kisah gokil masa sekolah di websitenya Annida. Lomba ini diadakan oleh oleh Gradien Mediatama. Berhubung kisah hidupku semasa berseragam tidak terlalu menarik, aku tidak terlalu berminat dengan lomba ini. Tapi, meskipun tidak berminat, aku tetap saja menyambangi situs resminya Gradien Mediatama.

Di situs tersebut, aku malah menemukan info lomba yang lebih menarik perhatianku. Yep, lombanya tentang menulis kisah nyata kita tentang proses move on yang pernah kita alami. Mmm, thinking about your past love story now? Hoho.

Ini nih syarat-syaratnya:

Syarat Peserta

  • Kumcer ini terbuka bagi siapa saja yang mau ikutan.
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutkan maksimal TIGA naskah terbaiknya.
  • Tuliskan profil singkat penulis dalam format narasi di akhir cerita, dalam 8 kalimat.

Syarat Naskah

  • Naskah berkisah seputar penyebab kamu remuk-redam dan bergulat untuk Move On.
  • Panjang cerita 3- 5 halaman Word dengan format  A4, 1,5 spasi, Arial 11 pt.
  • Meski harus dituturkan dengan hati perih, cerita tidak diizinkan ber-SARA dan ber-PORNO.
  • Setiap naskah harus dilengkapi dengan Formulir yang bisa dicopy dari sini.
  • Naskah dikirim dalam bentuk lampiran file ke:
  • E-mail: pestanaskahgradien(at)yahoo.com
  • Subject: CMO ………… (nama kamu)
  • Naskah paling lambat diterima pada 28 Juni 2012. Daftar peserta terpilih akan diumumkan pada 31 Juli 2012.
  • Naskah terpilih menjadi hak panitia untuk diterbitkan, dan naskah yang tidak terpilih tidak akan dikirimkan kembali.
  • Keputusan Tim Juri adalah mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat terkait dengan lomba ini.

Seleksi & Apresiasi

Tim Redaksi Gradien Mediatama akan menyeleksi 30-40 naskah terpilih untuk diterbitkan dalam buku Curhat Move On.Setiap naskah yang terpilih akan menerima apresiasi berupa:

  • Sponsor Dinner seorang diri Rp100.000,-
  • Suvenir spesial
  • Paket buku
  • Bukti terbit

Ketentuan Khusus

Apabila naskah yang masuk tidak memenuhi kualifikasi kualitas sebanyak 30-40 terpilih, maka penerbit Gradien Meditama berhak melakukan re-launching lomba ini untuk mendapatkan naskah baru guna memenuhi kuota 30-40 naskah.

Nah, info lengkap akses ke sini ya: http://www.gradienmediatama.com/berita_detail.php?act=view&id=280

Ayo, ayo, daripada disimpen-simpen bikin sesek, mending ditulis terus untung-untung diterbitin, hehe

[Cerpen] Buntu!

[Cerpen] Buntu!

H-4 Deadline…
Ha…parah…

Lagi-lagi aku kehilangan kata-kata. Lagi-lagi kataku tak punya makna. Lagi-lagi kataku tak menyampaikan apa-apa. Aku menatap layar komputerku frustasi. Barisan kata-kataku tak bertambah dari lima baris saja sejak 3 jam yang lalu.

“Huarggh!!!!!!!!!” pekikku. Hanya sunyi yang menyambut. Dinding kamar kosku pun tak menyahut. Penghuni lain juga tak merespon. Mereka terlalu percaya pada bualanku tentang inspirasi yang selalu datang dari erangan dan teriakanku.
Huah. Kepalaku buntu. Eh, salah kan, maksudku, otakku buntu.

Kualihkan pandanganku dari layar komputer ke ranjangku, buntu. Ke arah keranjang baju kotorku, buntu. Kuputar kepalaku ke tumpukan buku-buku di atas meja belajarku, aku teringat pada ujian tengah semester yang tinggal 2 hari lagi, membuatku semakin buntu dan buntu.

“Wuargh….!!!!” Teriakanku kembali membahana memantul ke dinding-dinding kamarku, menyelip di celah-celah ventilasi dan pintu dan entah terdengar entah sampai mana. Aku tak peduli.

“Aku tak peduli!!!” teriakku lagi, menyuarakan kekesalanku pada diri yang bodoh dan tak berbakat ini.

Hah, keningku berkedut-kedut, tampangku super kusut dan rambutku awut-awutan, membuatku terlihat tak jauh beda dengan Einstein yang mencibir di poster yang kupasang di depan pintu kamarku.

Oh, Tuhan, tolonglah hambaMu ini mencari inspirasi untuk menulis cerpen enam halaman saja. Enam halaman saja oh, Tuhan…,Cuma enam halaman ini Ya Tuhan…!, batinku.

Kruyuk…, genderang perutku yang menjawab. Hah, ini tak berguna. Mengeluh dan mendekam di kamar sepanjang hari sama sekali tak membantuku. Sudahlah, mungkin lebih baik kupenuhi saja tuntutan cacing-cacing peliharaanku ini dulu, semoga saja setelah itu mereka membantuku mencari inspirasi untuk menulis cerpen yang cukup bagus untuk kukirim ke lomba cerpen yang deadline-nya tinggal 4 hari lagi. Amin.
***
Aku menguyah makananku tak berselera. Kupandangi nasi goreng yang sebenarnya berbau harum itu dengan hampa. Hmm, apa aku membuat cerita tentang seorang koki atau tentang makanan saja ya? Ah, aku sendiri tidak bisa menanak nasi. Payah.

Pandanganku beralih ke kasir warteg tempatku makan. Ia menekuni angka-angka di bukunya dengan teliti. Sesekali menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. Memenuhi udara dengan partikel-partikel yang berbahaya bagi orang lain. Ia tipikal orang yang hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Tipe pria yang membagi kenalannya menjadi golongan yang menguntungkan baginya dan yang tidak. Tipe orang yang hanya perduli pada materi dan duniawi. Yak, sekian analisaku mengenai si kasir. Analisa yang kurang berguna sebenarnya, karena tidak membantuku sama sekali untuk mendapatkan inspirasi.

Dari kursiku yang menghadap ke jalanan, terlihat pasangan-pasangan tampak berjalan berdampingan tertawa-tawa sambil saling melemparkan pandangan mesra. Hmm, kisah cinta sepertinya cukup bagus untuk menjadi tema cerpen kali ini. Tapi, lagi-lagi, aku sendiri belum pernah mengalami kisah cinta yang mendebarkan hati. Jika ditanya apa itu cinta, aku mungkin akan mengalihkan pembicaraan dengan berkata polos, “Ehm, makan yuk!”

Meski aku pernah mendengar seseorang berkata kepadaku, ‘Kadang, yang tak pernah mengalami, menuliskannya, sedang yang mengalaminya kadang malah menyimpannya sendiri.’

Fantasi dan imajinasi. Mungkin itu adalah masalah terbesarku sebagai seorang penulis. Sebenarnya dari dulu aku sudah tahu itu. Tapi, aku hanya tak ingin berhenti pada satu kenyataan yang berkata aku sudah pada batasku. Aku hanya tak ingin menyerah, meski aku butuh berhari-hari untuk menuliskan kisahku. Keras kepala, mungkin.

Ahh, aku melantur. Seharusnya aku berkonsentrasi pada ceritaku, bukannya mengorek-ngorek kekuranganku sendiri. Sebelah tanganku mengaduk-ngaduk nasi goreng. Lagi-lagi buntu.

Buntu.
Buntu.
Buntu.
***
Wajahku kembali berhadapan dengan layar komputer. Menatap hampa, tanpa insipirasi. Teriakan dan erangan tak lagi membantu. Nasi goreng yang lezat pun hanya membahagiakan cacing-cacing peliharaanku.

Mungkin kau hanya harus menyerah. Sebuah suara berkata dalam benakku.

Mataku lelah, kemana pun kuarahkan pandangan mataku, yang kulihat hanyalah kata buntu dimana-mana. Tidak di ranjang, keranjang cucian, meja belajar, ataupun di poster Einstein yang selalu mencibir itu.

Tuh kan, kau memang tidak berbakat. Suara itu menggaduh kembali. Ah, diam!

Aku menengadah ke langit-langit kamarku. Memejamkan mata. Berusaha mengingat lembaran-lembaran hidupku yang bisa dijadikan referensi. Aku hidup di keluarga yang terlalu realistis. Dimana mimpi adalah sesuatu yang janggal. Dimana hidup adalah sebuah perjalanan yang tidak muluk-muluk. Dimana menjadi pegawai negeri adalah pilihan yang dianggap paling nyaman dan aman untuk diambil.

Sebagai anak paling bontot, aku merupakan bocah terakhir yang memerlukan biaya. Kedua orang kakakku telah bekerja sebagai pegawai negeri—sesuai harapan orangtuaku. Aku ingin punya mimpi. Meski mimpi itu akan diolok ibuku sepanjang hidupnya. Aku merasa berhak untuk bermimpi. Walau mimpi itu adalah sesuatu yang berada di luar jangkauanku.

“Menyerahlah, lupakan saja mimpi mulukmu! Karyamu tak bermutu,”, kata-kata ibuku dulu terngiang lagi di kepalaku.

Ah Ibu, tahukah kau betapa inginnya anakmu ini menjadi seorang penulis ternama. Seorang penulis yang mampu menggoreskan kata-kata penuh makna yang mampu membuat pembacanya tersenyum, tertawa, menangis dan berbagai emosi lain yang berdiam di setiap diri manusia. Seseorang yang bisa menjadi inspirasi bagi orang lain seperti para penulis idolaku. Aku ingin. Tapi, entah kenapa, setiap kali aku berusaha menuliskan ide-ide yang terlintas, ia lantas menguap begitu saja. Membuatku lagi-lagi mengeluarkan erangan-erangan aneh ketika berada di depan monitor komputerku.

Demi mimpi itu juga, aku masuk ke universitas di kota lain dengan harapan ketika jauh dari ibuku dan ejekannya tentang betapa aku tidak berbakat, aku mampu mengembangkan intuisiku sebagai seorang penulis.

Aku meninggalkan kotaku dengan tekad bulat, bahwa aku akan membuktikan pada ibu, aku bisa. Aku bukan sekedar pemimpi yang tak berjuang. Karena punya mimpilah, aku berjuang. Ketika pertama kali aku menginjak aroma kampus yang masih begitu asing, aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan menyerah.

Aku membuka mataku perlahan. Terasa panas di kedua sudutnya. Ya, benar, aku telah berjanji. Aku akan memenuhinya meski itu akan memakan waktu puluhan tahun atau ratusan tahun sekalipun. Meski kata buntu bertumpuk-tumpuk sekalipun di kamarku. Aku tidak boleh menyerah.

Meski Ibu tak akan pernah mendukungku selamanya, aku akan buktikan kalau waktu akan mendewasakanku dan karyaku. Akan kubuat kau bangga Ibu pada mimpiku yang kau anggap hanya mimpi kekanakan yang tidak akan membuatku bahagia. Meski jalan ini mungkin masih sangat panjang. Aku tidak akan menyerah. Untukmu, dan untuk janjiku.

Naifnya, suara itu berisik lagi.
“Silahkan tertawa! Aku tidak akan menyerah!” pekikku pada kesunyian kamarku.

Jam dinding yang tergantung miring di kamarku menunjukkan pukul empat sore. Aku merasakan lelah di punggungku. Mungkin aku perlu istirahat sejenak dan memulainya lagi nanti. Semoga, ketika terjaga nanti, sebuah ide brilian akan muncul dengan dramatisnya. Amin, desisku seraya perlahan berbaring, berharap dunia mimpi merengkuhku mesra dengan segera. Ah, dan semoga ide itu bisa kutuangkan dalam enam halaman cerpen yang menginspirasi. Amin lagi.
***