Review dan Perbandingan Biaya Periksa Kehamilan di Depok 2017

Review dan Perbandingan Biaya Periksa Kehamilan di Depok 2017

Mumpung lagi rajin, aku mau bikin review tempat periksa kehamilanku nih. Karena dari awal kehamilan, aku banyak keluhan, jadinya sering bolak-balik dokter dan bidan. Parno-an doang sih sebenarnya, ngabisin limit asuransi tapi. T.T

  1. dr. Mira Myrnawati di RSU Bunda Margonda Depok

Awalnya memilih RSU Bunda ini karena pada awal kehamilan, fisikku lemah, jadi tidak bisa pergi jauh-jauh. Makanya, periksa pertama dan keduaku di RS yang paling dekat dengan kontrakan ini.

Memilih dr. Mira karena dokter yang berpraktik di Klinik Morula ini terkenal favorit di RSU Bunda berdasarkan review emak-emak di dunia maya.

Kesan pertama: dokternya putih dan medok banget. hahaa. 😀

Dokter cantik ini mau menjelaskan kondisi pasien dengan baik, dengan catatan pasien harus yang bertanya. Mungkin karena antrian yang panjang, atau mungkin memang gaya dokternya, dokter berjilbab ini ngomongnya cuepet banget. Aku sebagai orang Minang yang sudah terbiasa dengan orang yang ngomongnya cepet pun terkesima juga, berusaha mencerna dengan cepat rentetan kalimat sang dokter.

Biaya Periksa Kehamilan RSU Bunda:

Biaya Konsultasi OBGYN

200.000

Tindakan USG

50.000

Alat USG

250.000

Biaya Umum Rumah Sakit

45.000

Biaya di atas itu belum termasuk vitamin dan obat-obatan ya. Rata-rata kemaren untuk obat hampir 500an semua juga. Bisa dilihat juga kalau di Bunda, biaya penggunaan alat dan tindakan menggunakan alat itu terpisah. Tapi sudah termasuk biaya cetak hasil usg.

Alasan pindah:

Ingin yang lebih murah dan lebih puas konsultasinya.

2. dr. Sofani Munzilla di RS Mitra Keluarga Depok

Nah, pilihan jatuh ke RS terdekat selanjutnya, RS Mitra Keluarga Depok. RS yang satu ini secara infrastruktur jauh lebih enak daripada RSU Bunda. Kenapa? Ruang tunggunya besar, jadi enggak sesak seperti waktu mengantri di Klinik Morula Bunda sebelumnya. Ruang praktiknya sih sama aja, tapi untuk kenyamanan ruang tunggu dan fasilitas umumnya lebih nyaman.

Memilih dokter yang satu ini juga tidak lepas dari review emak-emak di internet yang banyak merekomendasikan beliau.

Kesan pertama: tengil dan tomboy.

Ya, dokter yang juga berjilbab ini bawaannya sangat santai. Kadang cara ngomongnya bisa dikatakan agak nyeleneh. Kalau para bumil datang dengan kekhawatiran berlebih pasti dibawa selow, dan malah disuruh baca buku, karena katanya, kalau dia yang jelasin pasti ibu lupa juga, mending ibu beli buku. (^_^;)

Dokter Sofani praktik pagi dan malam, tapi mending datang pagi, pagi saja pasiennya bejibun. Aku dan suami menyiasatinya dengan cara datang pagi dulu untuk ambil nomor antrian, baru nanti datang lagi jam 9an pas si dokter sudah mulai praktik.

Overall, dokter yang satu ini enak diajak bicara meskipun bawaannya suka meledek pasien. Satu-satunya yang tidak enak dari kunjungan ke dokter ini adalah harganya yang tidak jauh beda dengan RSU Bunda. Fufufu.

Biaya Periksa Kehamilan RS Mitra Keluarga Depok:

Biaya Konsultasi OBGYN

175.000

USG

210.000

Print-out USG

40.000

Administrasi

25.000

Biaya di atas itu juga belum termasuk vitamin dan obat-obatan yang harganya sebelas dua belas lah dari Bunda. Terlihat lebih murah sedikit dari Bunda, tapi tetap mahal ya. fufufu. Karena cetak USG juga bayar di sini dan tidak ditanggung asuransi, jadi aku dan suami hanya foto pakai hp saja untuk kunjungan berikutnya.

3. Bidan Jeanne

Kunjungan ke bidan yang direkomendasikan oleh tetanggaku ini diawali dengan perkara keputihan yang sudah dua kali kontrol ke dr. Sofani tapi disepelekan (si dokter tengil tidak mau pengamatan langsung).

Karena khawatir membahayakan si penumpang perdana ini, ibuku menyarankan untuk ke bidan saja. Lebih murah dan pasti lebih paham, begitu kata beliau. Meskipun awalnya ogah-ogahan, akhirnya aku datang juga menyambangi bidan yang (katanya) terkenal di Depok ini.

Kesan Pertama: telaten dan ramah sekali.

Kesan pertama dengan Bu bidan ini sangat positif. Beliau mau memeriksa langsung dan malah berusaha membersihkan keputihanku (yang terpaksa dihentikan karena suakit pol) langsung. Meskipun antrian ada puluhan orang di luar sana, si Bu Bidan ini tidak terkesan terburu-buru dan meladeni kegelisahan dan kegalauan (halah) apa pun yang bumil mau curahkan.

Menentramkan hati deh pokoknya sesi konsultasi dengan bidan delima ini. Bidan Jeanne menjelaskan sedetil-detilnya yang bisa beliau jelaskan mengenai perkara kehamilan pada saat itu. Tuturnya juga runut dan gampang dimengerti.

Kekurangan dari klinik Bidan Jeanne ini hanyalah alat USG-nya yang sudah tua, jadi banyakan buremnya (efek biasa melihat USG kinclong RS swasta :p). Kalau di Mitra, sampe ke detil hidung mancung si dede bisa terlihat. Sedangkan di sini, siluet-siluet saja.

Biaya Periksa Kehamilan Bidan Jeanne: 80,000 sudah termasuk USG.

Nah, begitulah pengalamanku periksa si dedek bayi di tiga tempat berbeda di Depok. Semuanya tergantung pribadi sih, mau pilih tenaga kesehatan yang mana. Ikuti kata hati saja, kalau sudah tidak nyaman, pindah saja, tidak perlu ragu-ragu. Jangan sampai pengalaman periksa malah jadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Karena bumil itu sensitif kan, jadi penting untuk memilih nakes yang membuat bumil nyaman.

Semoga kehamilan kita semua lancar, ya! Aamiin.

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 2

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 2

Judulnya sih kunjungan akhir tahun, tapi aku baru sempat menuliskannya di awal tahun baru ini. Hehe.

Baca jugaKunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Semoga tahun ini tidak ada lagi posting-an mengenai kunjungan ke dokter apapun deh.

Amin.

So, lanjutan dari posting-an sebelumnya, setelah antibiotik habis, aku pun dijadwalkan untuk kontrol lanjutan ke dr. Asno lagi. Tapi ternyata, setelah berjibaku menelepon RS. Hermina, sang dokter berhalangan hadir hingga 3 hari ke depannya. Jadilah, aku memindahkan jadwal kontrolku ke hari Jumat (yang mana harusnya dari hari Selasa sudah kontrol). The only good news was I got number 1.

Meskipun mendapatkan nomor urut 1, tapi berhubung aku datang telat, tetap saja aku harus menunggu kurang lebih satu jam hingga dipanggil. Saat di-endoskopi, tidak lagi terlihat darah ataupun sesuatu yang mencurigakan di dalam hidungku. Tapi sensasi mampet, and my sleepless nights tetap terjadi dalam rentang waktu itu. Karena dokternya tidak menemukan apapun, aku hanya diresepkan dekongestan dan pengencer dahak, tanpa antibiotik lagi. Namun, karena keluhan masih ada, meskipun sudah berlangsung sangat lama, dr. Asno menyarankan untuk mengambil CT-Scan, kalau-kalau ada keganasan (daging tumbuh) di dalam hidungku.

CT-Scan huh?

Pasti biayanya sangat mahal. Hanya itu yang terpikir olehku pada saat itu. Benar saja, ketika mengecek ke bagian radiologi, ternyata harga yang harus kubayar untuk CT-Scan hidungku mencapai 1,7 juta!!! Waw, fantastis sekali hanya untuk meneropong hidung ini.

Aku pun mengecek ke bagian kasir, apakah CT-Scan ini ditanggung oleh asuransi, karena jika tidak, aku pikir tidak usah saja. Aku cukup yakin tidak akan ada hal yang muncul di foto CT-Scan tersebut. Setelah sang kasir mencoba berkali-kali menelepon pihak asuransiku, akhirnya diperoleh jawaban bahwa jika limit rawat jalanku masih ada, maka bisa dipergunakan. Alhamdulilah.

Akhirnya aku pun mencoba CT-Scan layaknya tokoh-tokoh dalam film-film, masuk ke dalam terowongan putih dan dipindai. Jika di film-film proses ini terlihat sebentar, ternyata tidak sama sekali. Kurang lebih 15 menit aku harus berbaring, tidak boleh bergerak selama proses pemindaian berlangsung. Ah, kau tak akan tahu susahnya bernapas dengan hidung mampet dalam posisi terlentang seperti itu. Aku juga harus menahan keinginan untuk memuntahkan lendir yang turun dari hidung dan menumpuk di tenggorokanku. Ugh.

Setengah jam lebih menunggu hasilnya, dan ternyata dugaanku benar sekali! Tidak ditemukan kelainan apapun, bahkan tidak ada deviasi septum nasi. Super sekali. Jadi benar, hidungku hanya ingin menyiksaku saja.

Aku pun kembali ke ruang praktik dr. Asno sambil membawa hasil foto CT-Scan tersebut. Hasil diagnosisnya sama dengan diagnosis dokter di bagian radiologi, tidak ada yang mengkhawatirkan. So, what now? 

Severe allergy, we settled for that then.

Yep, begitulah saudara-saudara, kunjungan berkali-kali ke berbagai dokter dan rumah sakit, aku masih belum menemukan jawaban atas hidung ini. Alergi, satu-satunya jawaban atas penderitaanku saat ini.

=====

Suka dengan tulisan Fairhie di atas? Fairhie bisa bantu kamu buat nulis konten menarik kayak di atas untuk blog atau website kamu loh! Yuk mampir ke toko Fairhiepedia!

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Jika setiap anggota tubuh bisa punya preferensi sendiri terhadap si empunya tubuh, mungkin hidungku adalah anggota tubuh yang paling membenciku.

Bagaimana tidak, sepanjang tahun ini rasanya tidak terhitung lagi banyaknya hari-hari berlalu dengan siksaannya padaku.

Seakan tidak puas dengan kunjungan berkali-kali ke dokter Asno sepanjang tahun 2016 ini, di akhir tahun pun, ia memaksaku untuk setor muka pada sang dokter. Tidak hanya sekali, tapi dua kali pulak.

Ya, efek berminggu-minggu dengan hidung super mampet dan nyeri tumpul di pangkal hidung, ditutup dengan mimisan seminggu penuh, aku akhirnya mengalah dan memutuskan untuk kembali ke dokter THT, lagi, dan lagi.

Antrian panjang dokter Asno dan telepon pendaftaran Hermina yang sangat sibuk, membuatku Read more

Hua, kembali ke dr. THT, part sekian-sekian [lagi]

Hua, kembali ke dr. THT, part sekian-sekian [lagi]

Lagi, harus mengupdate blog terlupakan ini dengan late post mengenai derita sinusitis yang ternyata masih ada season terbarunya. haaa

Saat aku menulis ini, hidung pesekku masih mengerjaiku dengan mampet dan ingusnya, meski sudah tak terhitung lagi jumlah tablet dan kapsul yang sudah kutelan.

Yep, lagi-lagi dikarenakan pilek yang terlalu lama, sinusitisku kumat. Hebatnya lagi, kali ini kambuh dengan dramatis. Bukan hanya lendir hijau yang kuproduksi, tapi juga darah! Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mimisan (kalau yang gara-gara disedot dr.Asno waktu itu enggak dihitung)!

Shocku! ● ﹏☉

Ceritanya, once upon a night, aku dengan pedenya melesitkan ingus, dan yang keluar: darah! Efek dua minggu memaksa cairan untuk keluar dari rongga hidungku, membuat pembuluh darah yang berada di dekat rongga sinusku pecah. Super!

Karena mimisannya terjadi pada malam hari, aku dengan paniknya ke klinik 24 jam, dan hanya diminta untuk membeli kain kasa steril dan salep antibiotik oleh sang dokter. Dokternya juga meresepkan Imunos (yang ternyata harganya mahal sekali) untuk menaikkan daya tahan tubuhku.

Sayang beribu sayang, besoknya ketika di kantor, mimisannya bertambah parah. Bukan hanya ingusnya yang bercampur darah, digantikan dengan darah segar yang mengalir. Membuat bukan hanya aku yang panik, tapi juga mbak-mbak yang berada di toilet kantor bersamaku. Haha

Khawatir akan semakin memburuk, aku memutuskan untuk ke dokter THT hari itu juga. Aku segera menelepon beberapa rumah sakit di depok untuk reservasi dokter. Aku membuat reservasi di dua tempat, RSU BUNDA dan HERMINA. Kenapa dua? Read more

Hua, kembali ke dr. THT, Sinusitis menyerang!

Hua, kembali ke dr. THT, Sinusitis menyerang!

Setelah sekian lama tidak mengupdate blog malang ini, aku harus mengupdatenya dengan berita duka. Ya, bukan berita kematian, tapi berita tubuhku yang menambah koleksi penyakitnya. Haha

Efek menjadi roker akhirnya menunjukkan rupa di tubuhku. Ditambah cuaca yang tidak bersahabat akhir-akhir ini, dari radang tenggorokan menjadi flu disertai pilek, setelah 2 minggu menderita, in the end aku divonis sinusitis ringan.

Ya, tidak bermaksud untuk lebay, aku didaulat menderita sinusitis ringan di bagian depan, tepat sekitar hidung dan pipi kiriku dan sedikit di kening. Karena hanya di satu area, makanya si dr.THT nya bilang masih masuk kategori ringan.

Flunya sendiri sudah lama sembuh, yang membuatku akhirnya harus memeriksakan diri ke spesialis THT adalah mampetnya yang menyulitkanku untuk bernapas, lebih-lebih di malam hari.

Sinusitis sendiri adalah Read more