Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 2

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 2

Judulnya sih kunjungan akhir tahun, tapi aku baru sempat menuliskannya di awal tahun baru ini. Hehe.

Baca jugaKunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Semoga tahun ini tidak ada lagi posting-an mengenai kunjungan ke dokter apapun deh.

Amin.

So, lanjutan dari posting-an sebelumnya, setelah antibiotik habis, aku pun dijadwalkan untuk kontrol lanjutan ke dr. Asno lagi. Tapi ternyata, setelah berjibaku menelepon RS. Hermina, sang dokter berhalangan hadir hingga 3 hari ke depannya. Jadilah, aku memindahkan jadwal kontrolku ke hari Jumat (yang mana harusnya dari hari Selasa sudah kontrol). The only good news was I got number 1.

Meskipun mendapatkan nomor urut 1, tapi berhubung aku datang telat, tetap saja aku harus menunggu kurang lebih satu jam hingga dipanggil. Saat di-endoskopi, tidak lagi terlihat darah ataupun sesuatu yang mencurigakan di dalam hidungku. Tapi sensasi mampet, and my sleepless nights tetap terjadi dalam rentang waktu itu. Karena dokternya tidak menemukan apapun, aku hanya diresepkan dekongestan dan pengencer dahak, tanpa antibiotik lagi. Namun, karena keluhan masih ada, meskipun sudah berlangsung sangat lama, dr. Asno menyarankan untuk mengambil CT-Scan, kalau-kalau ada keganasan (daging tumbuh) di dalam hidungku.

CT-Scan huh?

Pasti biayanya sangat mahal. Hanya itu yang terpikir olehku pada saat itu. Benar saja, ketika mengecek ke bagian radiologi, ternyata harga yang harus kubayar untuk CT-Scan hidungku mencapai 1,7 juta!!! Waw, fantastis sekali hanya untuk meneropong hidung ini.

Aku pun mengecek ke bagian kasir, apakah CT-Scan ini ditanggung oleh asuransi, karena jika tidak, aku pikir tidak usah saja. Aku cukup yakin tidak akan ada hal yang muncul di foto CT-Scan tersebut. Setelah sang kasir mencoba berkali-kali menelepon pihak asuransiku, akhirnya diperoleh jawaban bahwa jika limit rawat jalanku masih ada, maka bisa dipergunakan. Alhamdulilah.

Akhirnya aku pun mencoba CT-Scan layaknya tokoh-tokoh dalam film-film, masuk ke dalam terowongan putih dan dipindai. Jika di film-film proses ini terlihat sebentar, ternyata tidak sama sekali. Kurang lebih 15 menit aku harus berbaring, tidak boleh bergerak selama proses pemindaian berlangsung. Ah, kau tak akan tahu susahnya bernapas dengan hidung mampet dalam posisi terlentang seperti itu. Aku juga harus menahan keinginan untuk memuntahkan lendir yang turun dari hidung dan menumpuk di tenggorokanku. Ugh.

Setengah jam lebih menunggu hasilnya, dan ternyata dugaanku benar sekali! Tidak ditemukan kelainan apapun, bahkan tidak ada deviasi septum nasi. Super sekali. Jadi benar, hidungku hanya ingin menyiksaku saja.

Aku pun kembali ke ruang praktik dr. Asno sambil membawa hasil foto CT-Scan tersebut. Hasil diagnosisnya sama dengan diagnosis dokter di bagian radiologi, tidak ada yang mengkhawatirkan. So, what now? 

Severe allergy, we settled for that then.

Yep, begitulah saudara-saudara, kunjungan berkali-kali ke berbagai dokter dan rumah sakit, aku masih belum menemukan jawaban atas hidung ini. Alergi, satu-satunya jawaban atas penderitaanku saat ini.

=====

Suka dengan tulisan Fairhie di atas? Fairhie bisa bantu kamu buat nulis konten menarik kayak di atas untuk blog atau website kamu loh! Yuk mampir ke toko Fairhiepedia!

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Kunjungan Akhir Tahun ke Dokter THT, Lagi Part 1

Jika setiap anggota tubuh bisa punya preferensi sendiri terhadap si empunya tubuh, mungkin hidungku adalah anggota tubuh yang paling membenciku.

Bagaimana tidak, sepanjang tahun ini rasanya tidak terhitung lagi banyaknya hari-hari berlalu dengan siksaannya padaku.

Seakan tidak puas dengan kunjungan berkali-kali ke dokter Asno sepanjang tahun 2016 ini, di akhir tahun pun, ia memaksaku untuk setor muka pada sang dokter. Tidak hanya sekali, tapi dua kali pulak.

Ya, efek berminggu-minggu dengan hidung super mampet dan nyeri tumpul di pangkal hidung, ditutup dengan mimisan seminggu penuh, aku akhirnya mengalah dan memutuskan untuk kembali ke dokter THT, lagi, dan lagi.

Antrian panjang dokter Asno dan telepon pendaftaran Hermina yang sangat sibuk, membuatku Read more