Finally, S.Komp

Finally, S.Komp

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! :O
Rasanya ingin berteriak sekeras aku menekan tombol capslock!!
Huahua, >.<.

Haha.
Antara senang, lega,, dan sedih bercampur menjadi satu.
Senang dan lega karena perjuangan itu telah di penghujungnya, sedih karena kini aku resmi melepas status mahasiswa yang sangat kunikmati. Hua. Terasa cepat sekaligus lambat (apa coba).

Setelah berbagai halangan-halangan yang nyaris (atau memang) terkategorikan konyol, gelar S.Komp itu akhirnya resmi kusandang. Kyaa. Meski aku harus menunggu hingga tahun depan untuk mengenakan togaku, tapi setidaknya aku tidak perlu lagi mengurus berbagai hal yang menguras tenaga dan mental ini. Fiuh.

Yaa, sebenarnya bukannya tidak ada yang bakal kuurus lagi sih, aku masih harus mengurus tetek bengek ijazah, tapi setidaknya aku bisa bernapas sedikit lega karena tak perlu lagi mengkhawatirkan soal slot wisuda. Banzai!\(-_-)/
Banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan, soal berbagai halangan, cobaan, and those ridiculous events that happened on the way. ~_~, but when this has ended, they just doesn’t matter anymore. So don’t mind! Haha

All I want to say now is, Alhamdulilah. Alhamdulilah. Alhamdulilah. ^_^
For everyone that has been supported me in all kinds of way, thanks a lot. I just cant express my gratitude with any other but “thanks”.
May everything that comes after this are more fun and smooth!

Advertisements
“Tau-tau”

“Tau-tau”

Yap, “tau-tau”. Mungkin itu adalah satu kata tidak baku yang cocok menggambarkan lika-liku hidupku. Aku pun selama ini tak terlalu memperhatikannya, namun ketika seorang sahabat menyebut hidupku seperti itu, terpikir juga olehku. Ternyata memang bisa dikatakan “tau-tau”. Dua puluh satu tahun hidupku, ada banyak hal yang tidak kurencanakan dengan baik, namun tiba-tiba menghampiriku: “tau-tau”.

Aliran waktuku yang kubiarkan mengalirkan begitu saja tanpa usaha berarti untuk mengarahkannya, mengantarkanku pada belokan-belokan dan poin-poin yang muncul begitu saja. Allah sayang padaku, itu salah satu alasan ke-tau-tau-an hidupku, mungkin. Haha.

Jika dirunut lagi dengan seksama, ke-tau-tau-an itu mungkin jelas terbentuk sejak aku memasuki masa sekolah dasarku. Tanpa pernah merasa mati-matian belajar, tau-tau aku selalu juara di kelasku. Walaupun pada saat sekolah menengah pertama, aku tak seberuntung itu, tapi untuk setiap lomba akademik yang kuikuti, aku selalu tau-tau minimal lulus babak penyisihan. Lucu kadang, menyebalkan mungkin untuk beberapa orang yang merasa berusaha lebih keras daripadaku.

Kejutan itu juga berlanjut pada masa putih abu-abuku. Aku yang tau-tau menjadi ketua ekskul majalah dinding di sekolahku tanpa pernah punya pengalaman memimpin sebuah organisasi sebelumnya. Tau-tau juga di tahun yang sama, meraih peringkat 2 olimpiade komputer tingkat kota. Kejutan selanjutnya, yaa, tau-tau aku mendapatkan undangan masuk IPB.

Lanjut dengan tau-tau yang lain, aku bahkan kini tau-tau telah menyelesaikan 8 semester di IPB, dan melewati sidang tugas akhirku dengan aman. Meskipun gelar S.Komp sampai saat ini belum tau-tau kudapatkan, haha. Kuharap tau-tau yang itu datang dengan lebih cepat dan tahun ini aku bisa berkata dengan bahagia “Woa, tau-tau aku wisuda”. ^^

Hari ini juga seharusnya aku menjalani hari pertama dari pekerjaan yang tau-tau ditawarkan padaku saat sedang menjalani sidang. Namun, pekerjaan ini juga tau-tau tidak mengharuskanku datang secara reguler minggu ini, meskipun aku telah datang ke kantornya pagi ini bahkan sebelum pintunya dibuka. (~..~) . Yaa, berita baiknya, aku memang sedang tidak enak badan, dan ini tentunya memberikanku waktu istirahat untuk memulihkan tubuh rongsokku, haha.

Ya, kurasa ke-tau-tau-an yang diberikan Allah padaku, karena Allah tahu aku tak sepintar itu dalam merancang kehidupanku, jadi Dia memudahkanku dengan menyediakan pilihan di depan mataku. Alhamdulilah.
Aku mensyukuri hidupku yang serba tau-tau ini. Tapi, sesuatu menganggu pikiranku, jikalau seseorang tau-tau memutuskan untuk masuk ke dalam kehidupanku yang serba tau-tau ini, apakah dia akan juga tau-tau menghilang seperti kehadirannya yang juga tau-tau? Hmm.

Kala ke-tau-tau-an ini membawaku pada posisi yang menggetirkan, kuharap pada saat itu, aku akan tetap ingat semua tau-tau yang membahagiakanku. ^^

Kejutan di Akhir Semester VI

Kejutan di Akhir Semester VI

Yups, dan semester VI pun berakhir. Lagi-lagi menyisakan ruang kosong di blog ini yang tidak menceritakan informasi berguna di semester VI. Ha, tak apa lah.

Semester ini benar-benar melelahkan dan penuh kejutan! Dimulai dari jadwal kuliah yang padat, Senin-Sabtu dan jadwal-jadwal praktikum yang hingga maghrib, ditambah lagi dengan rentetan 6 projek kuliah berbeda yang menyiksa.

Keluhan demi keluhan kukeluarkan, dan tanpa disadari, semester ini bahkan berakhir begitu saja. Sekarang malah aku sedang mengetik di meja kerja tempat PKL ku dua bulan ini nantinya.

Haha, tau apa kejutan di akhir semester ini?
Aku ingin menangis sekaligus tertawa sekeras-kerasnya kalau saja sekarang aku tidak sedang berada di kantor. Hahay,

Kalau mau jujur, sejak terguling-guling di semester 3 dan 5 lalu, aku tidak terlalu percaya diri dengan kemampuanku bertahan hidup di ILKOM ini. Tapi hidupku memang terlalu sulit ditebak.
Kau tahu, masa kejayaanku itu hanya di tingkat TPB saja, itu yang selalu kusebut-sebut. Dan sejak masuk semester 3, aku sudah tidak berharap terlalu banyak pada diriku sendiri.

Tapi kini, di akhir semester ini, aku malah mendapatkan kejutan yang bahkan bisa membuatku menulis sebanyak ini setelah sekian lama!
🙂

Dan kejutan itu adalah…Jeng..Jeng…Jeng,,,,

Aku benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan IP seperti zaman TPB-ku lagi!!
Mimpi pun aku tak berani. Berbagai emosi campur aduk. Rasa tidak percaya memenuhi kepalaku, hari ini seakan mimpi. Kau boleh bilang aku lebay, atau apapun, tapi ini sungguh bukan hal yang aku sangka sama sekali!

Seandainya saja, aku tidak sedang di kantor saat melihat KRS pagi ini, mungkin aku sudah teriak-teriak, menangis, tertawa, dan meloncat kegirangan secara bersamaan!
Haha, jangan kau bayangkan. It must be ugly. :p

Alhamdulilah, segala puji hanya untukNya. Hanya satu kata itu yang terngiang-ngiang.
Aku berharap ini bukan kesalahan administrasi dan nilai-nilai yang bagaikan mimpi itu berubah tepat jam12 malam nanti. Aku tidak ingin menjadi Cinderella yang kehilangan nilainya di akhir malam. (?)
Semoga itu tidak terjadi. Semoga.

Cuap-cuap awal semester

Cuap-cuap awal semester

Sudah lama aku tak mengurus blog malang ini. Kesibukan semester VI memang tak bisa diremehkan, haha, lagi-lagi aku terdengar seperti sedang mencari-cari alasan. Tapi kali ini, ini bukan sekedar pembenaran. Memang tidak berbeda dengan semester lalu, aku hanya mengambil 21 sks lagi, tapi 21 sks di semester, u cant imagine what it can do to your life. #lebay

Kuliah dari pagi hingga sore, ditambah tugas kuliah yang rutin setiap minggunya plus tugas akhir berupa project bersama yang melibatkan tujuh tim berbeda untuk tujuh mata kuliah yang kuambil semester ini. Melelahkan? Belum seberapa. Aku masih punya kewajiban untuk menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang anggota divisi HRD di himpunan profesi departemenku, nama kerennya Himalkom. Tanggung jawabku sebenarnya ga banyak-banyak amat, tapi jadwal rutin rapat tetap terasa mengganggu jiwa malasku yang ‘agung’. Haha

Yah, tak apalah, meskipun semester ini punya banyak hal untuk membuatku mengeluh dari A-Z, aku akan berusaha sekuat tenaga menjalaninya tanpa mengeluh terlalu banyak. Maaf, aku memang belum bisa berhenti mengeluh, setidaknya aku akan berusaha menguranginya. Hehe

Yang jelas, semester ini aku harus berusaha memahami  empat bahasa pemrograman berbeda untuk project-project tersebut. Semoga saja aku bisa memaksa otak ini untuk berpikir cepat, karena waktu tidak pernah menunggu kan? Dua minggu lagi bahkan sudah mulai UTS! Fuah, semoga aku kurus karena sibuk! Haha (ngarep).

Ah, iya, aku masih belum menemukan tempat untuk praktek kerja lapang di bulan Juli nanti, adakah yang bersedia membantu?

Curhat Menjelang Semester VI

Curhat Menjelang Semester VI

Beberapa waktu yang lalu, aku dan seorang teman berbincang mengenai bagaimana kehidupan kami nanti setelah kelulusan. Apa yang akan kami lakukan dan apa yang akan kami tuju.  Temanku itu berencana membangun sebuah usaha yang bergerak di bidang agribisnis, tapi orang tuanya sepertinya akan menentang. Ia berkata ayahnya menginginkan ia kembali ke kampung halaman ayahnya dan bekerja di sana setelah kelulusan. Padahal dia sendiri tidak berminat untuk tinggal di sana dan lebih menyukai kehidupannya di Bogor.

Mendengar dilema yang ia hadapi, aku hanya bisa tersenyum simpul. Seperti yang pernah kuceritakan, aku tumbuh di keluarga yang liberal dimana aku bebas menentukan langkah dan arah hidupku. Jadi, aku juga tidak begitu mengerti bagaimana rasanya hidup dalam garis yang sudah ditentukan orangtua.

Ayahku sendiri sebenarnya sangat menginginkan aku melanjutkan ke S2, tapi  beliau tidak memaksa, penentuan akhir tetap di tanganku. Aku tidak menentangnya, juga tidak mengiyakan, karena aku sendiri juga tidak tahu mau apa dengan masa depanku. Jalan mudah yah menikah dan menjadi ibu rumah tangga saja. Tapi, aku sendiri tidak ingin kehidupan yang datar-datar  saja seperti itu. Ah, seandainya aku punya impian, mungkin segalanya tidak akan buram begini.

Temanku itu juga mengingatkanku, waktu yang kupunya tidak banyak lagi dan aku harus menentukan langkahku selanjutnya. Mungkin ia sedikit kesal dengan sikapku yang membiarkan hidupku mengalir tak tentu ketika aku memiliki kebebasan penuh, sementara ia sudah punya tujuan tapi terhalang oleh sang ayahandanya.

Hah, entahlah teman, kehidupan setelah lulus itu bagaimana, aku sama sekali tak bisa membayangkan. Bagiku, saat ini lebih penting, saat ini melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kulakukan. Dulu, aku pernah berkata, tidak apa menemukan impianku lebih lambat, tidak apa berjalan lebih lambat dari orang lain, tapi sepertinya aku berjalan terlalu lambat. How about you?

Target semester 6: menemukan apa yang ingin kulakukan!